Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin di luar jadwal. Langkah ini menjadi sinyal kuat fokus otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakan tersebut diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ekonom Senior DBS Bank Radhika Rao menilai pasar masih dihadapkan pada tantangan siklus jangka pendek Indonesia.

>>> Pengumuman Manajer Kopdes Merah Putih Mundur ke 10 Juni 2026

Meskipun prospek pertumbuhan struktural Indonesia tetap menarik, investor semakin mempertimbangkan tantangan siklikal jangka pendek. Hal ini mendorong pandangan yang lebih berhati-hati.

Radhika Rao menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga 50 bps bertujuan menjaga spread imbal hasil yang kompetitif dibandingkan US Treasury.

Ini penting untuk menarik kembali aliran modal yang sensitif terhadap suku bunga.

DBS mencatat kenaikan imbal hasil pada SRBI belakangan telah memperketat kondisi likuiditas. Kondisi ini memberikan kenaikan pada imbal hasil jangka pendek kurva SBN.

Pasar SBN RI sempat mengalami inverted yield curve pada Jumat (5/6) dengan yield SBN bertenor 1 tahun sebesar 7,21% dan tenor 10 tahun di level 6,90%.

Data PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) mencatat yield acuan SBN RI di level 7,27% per 9 Juni 2026.

Sementara itu, data Trading Economics pada tanggal yang sama mencatat yield SBN 10 tahun RI di level 7,40%, sedangkan yield SBN 1 tahun berada di level 7,14%.

>>> Fasset Global Luncurkan Fasset Card untuk Transaksi Stablecoin

Langkah ini menyusul kenaikan suku bunga sebesar 50 bps pada rapat Mei. Pembuat kebijakan berupaya menjaga selisih imbal hasil yang memadai terhadap US Treasury guna menarik aliran modal.

Selain kekhawatiran terhadap kinerja rupiah yang lesu, pasar juga menyoroti inflasi yang berisiko kembali muncul pada semester II/2026.

Tekanan harga berisiko meningkat jika konflik geopolitik bertahan lebih lama dan mengganggu pasar energi dan komoditas.

Inflasi berpotensi menembus target 1,5%-3,5%.

Inflasi harga produsen pada kuartal sebelumnya telah melampaui inflasi konsumen, mengindikasikan tekanan biaya di tingkat hulu belum sepenuhnya diteruskan ke harga ritel.

Intervensi yang dilakukan otoritas moneter mencerminkan arah kebijakan yang mendukung penguatan rupiah dalam jangka pendek.

>>> IPO SpaceX US$1,75 Triliun Berpotensi Ubah Aliran Modal Global

Namun, penguatan yang lebih berkelanjutan memerlukan arus modal masuk, penerapan kebijakan yang ramah pasar, hingga meredanya krisis minyak.