Rencana penawaran saham perdana (IPO) SpaceX dengan valuasi mendekati US$1,75 triliun pada pertengahan 2026 diperkirakan memicu pergeseran modal global dari aset berisiko seperti kripto ke pasar modal tradisional.

Informasi ini disampaikan dalam laporan Investasi pada Rabu (10/6/2026).

>>> Agensi Konfirmasi Choi Sooyoung dan Jung Kyung Ho Putus Setelah 14 Tahun Pacaran

Saat ini, indeks saham Amerika Serikat seperti S&P 500 dan Nasdaq bertahan di level tertinggi historis.

Sementara itu, Bitcoin justru terkoreksi lebih dari 20 persen dalam sebulan terakhir.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai fenomena ini mencerminkan kematangan pasar.

Menurutnya, modal investor kini tersebar ke berbagai sektor seperti kecerdasan buatan, infrastruktur digital, energi, dan robotik.

"Jika penyerapannya kuat, itu konfirmasi bahwa selera risiko global masih sehat dan investor masih percaya pada pertumbuhan jangka panjang sektor teknologi.

>>> Menkeu Purbaya: Dampak Kenaikan Pertamax ke Inflasi Minim

Kalau sebaliknya, itu bisa jadi tanda bahwa likuiditas global mulai mengetat lebih serius dari yang kita perkirakan," ujar Fahmi.

Perkembangan SpaceX melalui jaringan Starlink di lebih dari 100 negara memperkuat posisi strategis perusahaan di sektor konektivitas dan pertahanan global.

Dinamika yang melibatkan rencana IPO SpaceX, kebijakan suku bunga The Fed, serta koreksi pasar kripto juga berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal masuk ke Indonesia.

"Dalam kondisi seperti ini, pendekatan investasi yang disiplin dan terdiversifikasi jauh lebih relevan dibanding upaya mengejar momentum jangka pendek.

>>> Pengadilan Agama Jakarta Selatan Bantah Gugatan Cerai Cita Rahayu

Investor yang memahami tema-tema pertumbuhan besar ke depan, dan memposisikan diri lebih awal, biasanya yang paling diuntungkan," kata Fahmi.