Harga emas dunia kembali mengalami penurunan signifikan setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan terhadap Iran pada Rabu (10/6/2026).

Langkah ini memicu kekhawatiran baru atas stabilitas gencatan senjata di Timur Tengah.

>>> Harga Emas Terjun ke Level Terendah Sejak Desember 2025, Perak Ikut Terseret

Nilai emas spot anjlok hingga 1,2 persen ke level US$ 4.210 per ons, melanjutkan kontraksi 1,6 persen pada sesi sebelumnya.

Data ini dilansir dari Bloomberg internasional.

Serangan Balasan dan Dampak Geopolitik

Aksi militer AS merupakan respons atas tuduhan Presiden Donald Trump bahwa Iran menembak jatuh helikopter militer AS di lepas pantai Oman.

Media pemerintah Iran, IRIB, mengonfirmasi enam ledakan di Pulau Qeshm di Selat Hormuz.

Konflik ini meningkatkan kekhawatiran penutupan Selat Hormuz, jalur transit energi vital dunia. Di sisi lain, harga minyak mentah naik pada Rabu pagi, berpotensi memicu inflasi global lebih tinggi.

Dinamika makroekonomi ini membuat bank sentral cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Kebijakan suku bunga tinggi menjadi penahan bagi emas karena statusnya sebagai aset tanpa imbal hasil.

>>> Jadwal dan Harga Tiket KA Mataram Jakarta Solo PP Libur Sekolah 2026

Secara teknikal, harga emas berada 20 persen lebih rendah dibandingkan posisi sebelum konflik pecah pada akhir Februari 2026.

Penembusan di bawah rata-rata pergerakan 200 hari mendorong aksi jual massal investor institusional.

"Kami memperkirakan pergerakan harga emas akan semakin rentan dalam jangka pendek seiring meningkatnya prospek kenaikan suku bunga," ujar Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered Plc.

Cooper menambahkan bahwa level dukungan teknis berikutnya diperkirakan pada kisaran US$ 4.100 per ons.

Sementara itu, harga emas spot diperdagangkan turun 0,9 persen ke US$ 4.223,82 per ons pada Rabu pagi.

Penurunan harga emas juga diikuti oleh pelemahan komoditas logam mulia lainnya seperti perak, platinum, dan paladium.

>>> FIFA Jual Slot Tampilan Nama Suporter di Layar Stadion Piala Dunia 2026

Tekanan jual terjadi karena penguatan dolar AS dan daya tarik aset berbunga tinggi di tengah ketidakpastian.