Harga Emas Terjun ke Level Terendah Sejak Desember 2025, Perak Ikut Terseret

Harga emas melanjutkan tren penurunan dan menyentuh posisi terendah dalam lebih dari enam bulan terakhir. Tekanan di pasar logam mulia muncul di tengah aksi jual yang terjadi di berbagai aset keuangan global serta meningkatnya keyakinan pelaku pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini.

Pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, harga emas ditutup di US$ 4.262,52 per troy ons. Dalam sehari nilainya terkoreksi 1,53% dan memperpanjang pelemahan menjadi tiga hari berturut-turut dengan akumulasi penurunan sekitar 4,7%.

Level tersebut menjadi harga penutupan terendah sejak 12 Desember 2025. Dengan demikian, harga emas kini berada di titik paling rendah sepanjang 2026.

Tekanan masih berlanjut pada perdagangan Rabu pagi. Hingga pukul 06.26 WIB, harga emas berada di US$ 4.255,28 per troy ons atau turun 0,17% dibandingkan posisi sebelumnya.

Di awal sesi perdagangan, emas spot bahkan sempat merosot lebih dari 2% dan menyentuh titik terendah sejak 23 Maret.

Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, menilai pelaku pasar sedang berada dalam kondisi hati-hati sehingga mendorong pergeseran dana ke aset yang dianggap lebih aman.

"Trader saat ini sedikit gugup. Hampir semua pasar masuk ke mode risk-off, dan itulah yang menekan harga emas," kata Haberkorn.

Pelemahan pasar saham Amerika Serikat turut memperberat tekanan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tercatat turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Menurut Haberkorn, pergerakan emas dan perak masih berpotensi tertahan hingga pasar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter berikutnya dari Federal Reserve.