Harga Emas Terjun ke Level Terendah Sejak Desember 2025, Perak Ikut Terseret
>>> IHSG Melonjak 3,26% ke 5.933, BBCA, BRPT, dan DSSA Jadi Pendorong
Investor Menanti Data Inflasi AS
Perhatian pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat. Data Consumer Price Index (CPI) Mei dijadwalkan diumumkan pada Rabu, sementara Producer Price Index (PPI) akan dirilis sehari kemudian.
Kedua indikator tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga ke depan.
Dalam catatan terbarunya, Commerzbank menyebut harga emas masih berisiko turun apabila inflasi AS kembali melampaui ekspektasi pasar. Meski demikian, peluang pemulihan menjelang akhir tahun tetap terbuka apabila Federal Reserve memutuskan tidak menaikkan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 68% untuk kenaikan suku bunga pada Desember mendatang.
Harga Minyak Turun dan Sentimen Global Berubah
Di pasar energi, harga minyak bergerak melemah setelah Iran dan Israel menyatakan penghentian serangan menyusul seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Penurunan harga minyak ikut memengaruhi ekspektasi inflasi. Selama ini, kenaikan harga energi kerap memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dan membuat suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama.
Meski emas sering digunakan sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, lingkungan suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak menghasilkan imbal hasil.
Dari sisi permintaan fisik, pasar juga mencermati lonjakan tarif impor emas di India yang disebut memicu kembali aktivitas penyelundupan. Volume emas ilegal yang masuk ke negara tersebut diperkirakan dapat melampaui 100 ton sepanjang tahun ini.
Perak Juga Mengalami Tekanan Berat
Bukan hanya emas yang mengalami koreksi tajam. Harga perak pada perdagangan Selasa ditutup di US$ 65,36 per troy ons atau turun 4,12% dalam sehari.
Harga tersebut menjadi yang terendah sejak 17 Desember 2025.
Pergerakan perak masih menunjukkan pelemahan pada Rabu pagi. Hingga pukul 06.28 WIB, harganya tercatat berada di US$ 65,19 per troy ons, turun 0,28% dibandingkan posisi sebelumnya.
Update Terbaru
Yandex Luncurkan Solusi AI untuk Operator Telekomunikasi di Indonesia
Rabu / 10-06-2026, 16:09 WIB
Veda Ega Pratama Siap Bersaing dengan Pebalap Spanyol di Moto3
Rabu / 10-06-2026, 16:09 WIB
Harga Emas Digital 10 Juni 2026 Anjlok, Tertekan Global dan Rupiah
Rabu / 10-06-2026, 16:09 WIB
Veda Ega Pratama Geser Pebalap Spanyol di Klasemen Moto3 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:09 WIB
Dudung Abdurachman Respons Protes Investor Makan Bergizi Gratis
Rabu / 10-06-2026, 16:08 WIB
Morgan Stanley: Penerbitan Utang AI Global Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:08 WIB
Kementerian PU Targetkan Regulasi Baru SPM Jalan Tol Rampung 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Stok Poco F8 Ultra Kembali Tersedia di Seluruh Kanal Resmi
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
IP Expo Indonesia 2026 Tumbuh 40 Persen, Perkuat Ekosistem Kekayaan Intelektual
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Harga Minyak WTI Turun ke US$ 88,13 Akibat Meredanya Ketegangan Timur Tengah
Rabu / 10-06-2026, 16:05 WIB
Niat dan Keutamaan Puasa Tasua serta Asyura 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:04 WIB
YLKI Desak Transparansi Formula Perhitungan Harga Pertamax
Rabu / 10-06-2026, 16:04 WIB
Restoran di India Wajib Ganti Rugi dan Beri 10 Porsi Biryani Gratis Akibat Lalat dalam Makanan
Rabu / 10-06-2026, 16:00 WIB
Kenaikan BI Rate ke 5,50% Berpotensi Jadi Sentimen Baru Pasar Saham
Rabu / 10-06-2026, 16:00 WIB






