Kondisi anak unta mulai kepanasan menjadi penanda di masa Arab dahulu bahwa matahari telah meninggi dan pasir padang pasir mulai panas.

Para ulama mengonstruksikan waktu tersebut berada di seperempat siang atau mendekati pertengahan pagi.

Kitab Fiqih Manhaji Ala Madzhab Al Imam Asy-Syafii menegaskan bahwa waktu terbaik dhuha adalah saat panas matahari mulai kuat, bukan terlalu pagi setelah matahari terbit.

Syaikh Musthafa Al Bugha dalam kitab Nuzhatul Muttaqin juga menjelaskan: "Waktu sholat dhuha dimulai sejak matahari meninggi hingga mendekati tengah hari.

Namun yang paling utama adalah ketika matahari sudah terasa panas."

Jika dikonversi ke waktu Indonesia, khususnya wilayah Jakarta dan sekitarnya, momen paling utama ini berada di kisaran pukul 08.30 hingga 10.00 WIB.

Banyak ulama menyebut sekitar pukul 09.00 WIB sebagai waktu yang sangat baik karena posisi matahari sudah cukup tinggi namun belum mendekati waktu zuhur.

>>> Indeks Topix Jepang Terkoreksi Akibat Serangan AS ke Iran

Alasan Keutamaan Waktu dan Jumlah Rakaat

Sebagian ulama menilai waktu dhuha sebagai momen yang mustajabah karena bertepatan dengan mulainya kesibukan manusia mengejar urusan duniawi, seperti bekerja dan berdagang.

Di tengah kesibukan tersebut, orang yang menyempatkan diri menghadap Allah dinilai memiliki keutamaan tersendiri.

Dalam buku Rahasia Dahsyat Shalat Sunnah karya Imam Musbikin, ibadah ini menjadi simbol tawakal seorang hamba yang tetap menggantungkan harapan rezekinya kepada Allah di tengah aktivitas.

Doa yang dipanjatkan setelah sholat umumnya berisi permohonan kemudahan rezeki, keberkahan usaha, serta kelancaran urusan.

Jumlah rakaat sholat dhuha paling sedikit adalah dua rakaat.

Namun, Rasulullah SAW juga pernah mengerjakan empat rakaat, delapan rakaat, atau lebih sesuai kemampuan dengan tata cara dua rakaat salam, dua rakaat salam.