Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan jangka pendek menuju kisaran 6.000 hingga 6.300.

Pada perdagangan Selasa (9/6/2026), IHSG melonjak 7,57 persen ke level 5.746,65.

>>> AS Serang Target Iran di Selat Hormuz Usai Helikopter Apache Ditembak

Lonjakan tajam ini terjadi setelah indeks domestik mengalami tekanan cukup dalam. Keberhasilan menembus kembali level psikologis 5.500 dinilai menjadi sinyal positif.

Penguatan lanjutan dapat tercapai jika sentimen global membaik, nilai tukar rupiah stabil, serta pemerintah mampu menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kepercayaan investor.

Meski demikian, tantangan ekonomi domestik masih membayangi. Tingginya suku bunga berpotensi menekan permintaan kredit, memperlambat ekspansi usaha, dan mengurangi aktivitas konsumsi.

Pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan biaya hidup yang belum diimbangi peningkatan pendapatan juga mulai menjadi perhatian.

"Jika kondisi ini berlangsung lebih lama, maka pertumbuhan ekonomi domestik dapat melambat dan berpengaruh terhadap kinerja emiten yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga," ujar Hendra Wardana, Founder Republik Investor sekaligus pengamat pasar modal.

Sektor perbankan yang menjadi penopang utama juga menghadapi risiko kenaikan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Beban cicilan yang meningkat berpotensi menambah risiko gagal bayar pada segmen UMKM dan debitur yang bergantung pada konsumsi domestik.

Meskipun kualitas aset bank besar masih terjaga, investor asing cenderung berhati-hati walau valuasi saham perbankan sudah jauh lebih murah.

Di sisi lain, kondisi saat ini membuka peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang karena banyak saham blue chip berfundamental kuat diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya.

>>> Investor Asing Borong Saham CDIA Dua Hari Berturut-turut, Harga Melonjak 17,8%