Harga emas dunia mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Kemerosotan ini dipicu oleh aksi jual di pasar keuangan global serta meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini.

>>> UD Almeria Tekuk CD Castellon 3-2 Lewat Gol Dramatis Menit Akhir

Emas pasar spot ditutup melemah 1,63 persen ke posisi US$ 4.259,52 per ons troi, setelah sempat anjlok di atas 2 persen ke titik terendah sejak 23 Maret 2026.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga jatuh 1,8 persen ke level US$ 4.284,85 per ons troi.

Kondisi pasar yang menghindari risiko turut menekan saham di AS, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq melemah ke level terendah dalam sebulan.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar memproyeksikan probabilitas sekitar 68 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.

Tekanan Berlanjut Sebelum Data Inflasi

Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn mengatakan kecemasan melanda pelaku pasar dan memicu perpindahan aset secara masif.

"Pelaku pasar terlihat cukup gelisah. Hampir seluruh pasar bergerak dalam mode risk-off dan kondisi itulah yang mendorong harga emas turun," ujarnya.

Perhatian investor kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei pada Rabu dan Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.

>>> Puasa Daud: Latihan Pengendalian Diri di Tengah Modernitas

Haberkorn memperkirakan pergerakan emas masih akan menghadapi tekanan sebelum ada kejelasan arah kebijakan moneter.

Kenaikan suku bunga secara historis mengurangi daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil.