Indonesia yang berada di jalur Cincin Api Pasifik memiliki 141 gunung berapi, dengan sekitar 130 di antaranya masih aktif.

Aktivitas vulkanik yang tinggi ini ternyata menyimpan potensi solusi untuk mengatasi stunting.

>>> Bulog Usulkan Program Beraskita Premium untuk Stabilkan Harga Beras

Gagasan tersebut diangkat oleh Jadrianna Sutrisno, siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School (JIS).

Melalui riset berjudul "From Soil to Supper: Agriculture and Child Health in Indonesia", ia mengkaji hubungan kesuburan tanah vulkanik, produktivitas pertanian, dan angka stunting.

Penelitian ini dipresentasikan dalam Jakarta Scholars Symposium (JSS) 2026 pada 27 Mei lalu. Jadrianna mengeksplorasi keunggulan alam tersebut dalam kaitannya dengan ketahanan pangan serta kesehatan anak di Indonesia.

Korelasi Kesuburan Tanah dan Stunting

Riset ahli vulkanologi Vincent Neall dari Massey University menunjukkan tanah vulkanik mampu menopang 10 persen populasi global meski luasnya hanya satu persen di bumi.

Jenis tanah ini kaya unsur hara kalium dan fosfor yang mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.

Melalui analisis data, Jadrianna menemukan korelasi positif antara tingkat kesuburan tanah bentang alam vulkanik dengan rendahnya angka kasus stunting anak.

Wilayah Jawa Barat yang subur oleh unsur vulkanik mencatat angka stunting rendah sebesar 15,9 persen.

Sebaliknya, wilayah Papua yang minim aktivitas vulkanik dan lahan pertanian mencatat angka stunting mencapai 40,8 persen.

"Saya menemukan korelasi positif antara kesuburan tanah yang diperkaya abu vulkanik dengan rendahnya angka stunting," jelas Jadrianna.

Catatan historis membuktikan abu vulkanik mampu mendongkrak produktivitas pertanian secara signifikan, seperti pascaerupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat pada 1982.

Pola peningkatan kesuburan serupa juga ditemukan pada berbagai wilayah pegunungan lain di Indonesia.