Kemitraan Sehat Lindungi Petani Sawit dari Penurunan Harga TBS
Pola kemitraan yang kuat antara perusahaan inti dan pekebun dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan usaha perkebunan rakyat.
Langkah ini terbukti efektif melindungi pendapatan petani di tengah fluktuasi pasar.
>>> Jorge Martin Picu Kecelakaan Karambol di MotoGP Hungaria 2026
Sejumlah petani plasma menegaskan bahwa tidak semua pabrik kelapa sawit membeli tandan buah segar di bawah harga ketetapan pemerintah.
Penurunan harga yang terjadi belakangan ini tidak dapat disamaratakan pada seluruh industri sawit.
Petani plasma yang bermitra dengan PT Rimba Mujur Mahkota, anak usaha Artha Graha, dilaporkan masih menerima harga jual yang aman.
Mereka mendapatkan harga TBS yang berpedoman pada keputusan Dinas Perkebunan Kabupaten Mandailing Natal.
Konsistensi Perusahaan Jaga Stabilitas Ekonomi Petani
Ketua Koperasi Unit Desa Sumber Usaha, Mujahit, menyatakan bahwa konsistensi perusahaan dalam menerapkan formula harga resmi sangat membantu stabilitas ekonomi anggotanya.
"Kami bersyukur, PT RMM membeli TBS kami dengan harga tinggi, sesuai ketentuan Disbun.
Petani bisa lebih tenang, bisa mengimbangi kebutuhan pupuk dan BBM yang masih tinggi," jelas Mujahit dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6/2026).
>>> Byon Madness Vol 4 Siap Sajikan 13 Pertarungan Sengit di PIK 2
Menurut Mujahit, perusahaan yang menjalankan komitmen kemitraan secara konsisten membuat petani mendapatkan nilai ekonomi yang adil dan transparan.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan keluhan umum mengenai kemerosotan pendapatan di berbagai wilayah.
Sebelumnya, para pekebun sawit mengeluhkan kejatuhan harga jual TBS yang cukup drastis.
Nilai komoditas tersebut merosot dari kisaran Rp3.600-Rp3.700 per kilogram menjadi hanya sekitar Rp2.300-Rp2.500 per kilogram.
Situasi tersebut kian menekan operasional perkebunan rakyat akibat lonjakan biaya produksi. Beban utama yang dirasakan para petani adalah tingginya harga pupuk serta bahan bakar di pasaran.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mengintensifkan pengawasan terhadap tata niaga pembelian TBS oleh pihak pabrik. Pengawasan ketat ini dilakukan demi memastikan kepatuhan industri terhadap regulasi yang berlaku.
Di sisi lain, pihak otoritas memberikan apresiasi kepada korporasi yang tetap patuh pada aturan harga resmi.
>>> Dasco Bantah Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih
Hubungan kerja sama yang sehat antara pabrik dan koperasi dinilai krusial untuk menopang ketahanan sektor komoditas nasional.
Update Terbaru
Teknisi Ungkap Proses Balancing Baterai Mobil Listrik Butuh Waktu Hingga 3 Hari
Selasa / 09-06-2026, 19:44 WIB
Singapura Tanggapi Kebijakan Ekspor Satu Pintu Komoditas Strategis RI
Selasa / 09-06-2026, 19:44 WIB
Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi Jadi Unggulan di Libema Terbuka 2026
Selasa / 09-06-2026, 19:40 WIB
Telkom Buyback Saham Rp4 Triliun dan Bagikan Dividen, Analis Optimistis
Selasa / 09-06-2026, 19:40 WIB
Dewan Ekonomi Nasional Laporkan Risiko Pelemahan Rupiah ke Presiden
Selasa / 09-06-2026, 19:39 WIB
Menguak Misteri Jumlah Pintu Lawang Sewu Semarang
Selasa / 09-06-2026, 19:37 WIB
Janice Tjen Tersingkir di Babak Pertama Libema Open 2026
Selasa / 09-06-2026, 19:37 WIB
Mitsubishi Eclipse Kembali, Tapi Kini Jadi Mobil Listrik Rebadge Nissan
Selasa / 09-06-2026, 19:36 WIB
Korlantas Polri Perpanjang Moratorium Sirene dan Pengawalan Kendaraan
Selasa / 09-06-2026, 19:36 WIB
Grab Indonesia Targetkan Armada Kendaraan Listrik Naik Tiga Kali Lipat pada 2026
Selasa / 09-06-2026, 19:36 WIB
Jadwal Libur Sekolah Semester Genap 2026 di Jakarta dan Jawa Barat Resmi Dirilis
Selasa / 09-06-2026, 19:36 WIB
Pemerintah Siapkan Rp 20 Triliun untuk Keberlanjutan JKN BPJS Kesehatan
Selasa / 09-06-2026, 19:36 WIB
IHSG Melonjak 7,5 Persen ke Level 5.746,6 Akhiri Tekanan Beruntun
Selasa / 09-06-2026, 19:35 WIB
Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan 17 Duta Besar Negara Sahabat
Selasa / 09-06-2026, 19:35 WIB






