Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% pada hari ini.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperkuat nilai tukar rupiah.

>>> APVI: Rencana Kemasan Polos di RPMK Berpotensi Ganggu Ekonomi

Head of Investment Portfolio Strategy Bank Sinarmas, Ismail Muharam, mengatakan kenaikan suku bunga acuan secara teori seharusnya mendorong kenaikan yield surat berharga negara (SBN).

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, pergerakan pasar obligasi tidak sepenuhnya mengikuti teori karena adanya intervensi BI melalui pengelolaan kurva imbal hasil (yield curve).

Selama periode tersebut, yield obligasi tenor pendek mengalami kenaikan signifikan, sementara yield tenor panjang cenderung ditahan. Kondisi ini menyebabkan yield curve mengalami flattening.

Namun, situasi berubah pada awal pekan ini.

Ismail menyebut BI mulai melepas intervensi atau mengurangi kebijakan operation twist secara bertahap pada SBN tenor 10 tahun.

Akibatnya, yield SBN 10 tahun melonjak dari sekitar 6,7% menjadi 7,3% pada Senin (8/6), dan naik lagi menjadi 7,4% pada Selasa (9/6).

"Jadi proyeksi kami sebenarnya adalah kita melihat adanya policy tapering, di mana BI itu sudah mulai mengurangi, atau bisa bilang menghilangkan operation twist tersebut.

Jadi yang terjadi adalah (intervensi) yield 10 tahunnya itu mulai dilepas oleh BI.

Akibatnya, yieldnya lompat kemarin hari Senin dari 6,7% ke 7,3%," ungkap Ismail di Bursa Efek Indonesia, Selasa (8/9/2026).

"Dan ini kami predict ya, memang itu hal yang wajar.

>>> OJK Catat Pembiayaan Kendaraan Multifinance Naik Jadi Rp290 Triliun

Karena kalau tidak dijaga oleh Bank Indonesia ya, itu kemungkinan yield-nya itu bisa di level 7,3% sampai 7,5%," lanjutnya.