Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) menilai rencana penerapan kemasan polos (plain packaging) dalam Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang luas.

Kebijakan tersebut tidak hanya memengaruhi industri rokok elektronik, tetapi juga mengancam keberlangsungan UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem industri tembakau alternatif.

>>> OJK Catat Pembiayaan Kendaraan Multifinance Naik Jadi Rp290 Triliun

APVI menyoroti ketentuan standardisasi kemasan yang mewajibkan penggunaan warna tertentu serta membatasi pencantuman identitas merek dan visualisasi produk.

Menurut organisasi tersebut, kemasan merupakan bagian penting dari identitas merek yang dibangun pelaku usaha melalui investasi dan pengembangan bisnis jangka panjang.

Jika kemasan polos diterapkan, nilai ekonomi yang melekat pada merek berpotensi berkurang dan daya saing pelaku usaha legal dapat tergerus.

Sekretaris Jenderal APVI, Garindra Kartasasmita, menegaskan bahwa penyusunan regulasi perlu mempertimbangkan keseimbangan antara aspek kesehatan dan keberlangsungan usaha.

"APVI memandang bahwa regulasi perlu disusun secara proporsional, implementatif, dan mempertimbangkan keseimbangan antara perlindungan kesehatan masyarakat dengan keberlangsungan industri legal nasional serta UMKM yang berada di dalam ekosistemnya," ujar Garindra dalam pernyataan yang dikutip Senin (8/6/2026).

APVI mengingatkan bahwa UMKM merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

>>> IGAR Targetkan Pertumbuhan Bisnis 9,69% pada 2026 dengan Capex Rp88 Miliar

Karena itu, setiap kebijakan yang berpotensi menekan aktivitas UMKM dinilai perlu dikaji secara matang agar tidak memicu dampak berantai terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan pemerintah.

Selain berdampak pada pelaku usaha utama, APVI menilai kebijakan kemasan polos juga berpotensi memengaruhi sektor-sektor pendukung seperti industri kreatif, percetakan kemasan, biro periklanan, jasa logistik, hingga jaringan distribusi.