Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengandalkan perluasan kerja sama imbal dagang dengan negara mitra untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Langkah ini ditempuh guna mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah dan menekan potensi lonjakan harga komoditas impor di dalam negeri.

>>> CHINT Group Jajaki Investasi Energi Terbarukan di Indonesia

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa pemerintah terus memantau pergerakan harga barang akibat fluktuasi mata uang asing.

Skema barter komoditas dinilai efektif untuk meminimalkan penggunaan devisa dalam perdagangan internasional.

"Kita lakukan pengawasan terus, kita antisipasi. Memang harapannya tidak naik," ujar Budi Santoso di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Implementasi Imbal Dagang dengan Filipina

Salah satu implementasi nyata dari kebijakan ini telah diterapkan dalam kesepakatan dengan Filipina. Transaksi mencakup pertukaran abaca dengan tekstil, serta iron ore dengan baja.

Nilai transaksi dari kolaborasi imbal dagang bilateral tersebut mencapai US$ 350 juta atau setara Rp 6,3 triliun.

>>> DPR Dorong Buyback Saham BUMN untuk Stabilkan Pasar Modal

Pemerintah berencana memperluas cakupan komoditas dan menambah daftar negara mitra untuk mengoptimalkan dampak kebijakan.

"Nah itu, kita harapkan nanti ada produk yang lain.

Itu salah satu kita untuk mengurangi kebutuhan dolar karena dengan imbal dagang bisa membantu itu," ujar Budi Santoso.

Upaya mendongkrak volume ekspor dan memangkas penggunaan dolar untuk impor diharapkan mampu meredam tekanan eksternal terhadap rupiah.

>>> Presiden Prabowo Terima Surat Kepercayaan Sembilan Duta Besar Negara Sahabat

Kemendag fokus pada stabilitas harga barang dan penguatan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.