Biasanya dalam sebulan akan naik," jelas Tauhid.

Dampak ini akan langsung dirasakan pada berbagai produk pembiayaan konsumen, termasuk KPR dan pinjaman online.

>>> UIN Bandung Buka Pendaftaran Jalur Mandiri 2026 dengan Beragam Seleksi

"Termasuk tadi KPR biasanya mengikuti. Termasuk pinjaman online juga bunganya pasti oleh pelaku usaha akan ikut naik.

Konsekuensinya seperti itu," tegas Tauhid.

Pemicu Pelemahan Rupiah

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengungkapkan bahwa penurunan nilai tukar rupiah yang melampaui estimasi menjadi pemicu utama keputusan Bank Indonesia.

Situasi mata uang domestik bahkan memicu kritik dari berbagai otoritas negara.

"Karena pelemahan mata uang rupiah yang begitu tinggi di Rp 18.200 dan inipun juga mendapatkan kritikan intervensi dari berbagai lembaga, baik DPR, pemerintah, maupun presiden terhadap Bank Indonesia," tutur Faisal.

Faisal menilai kebijakan penyelamatan rupiah ini membawa efek samping berupa pembengkakan beban pinjaman baru bagi debitur perbankan komersial.

Suku bunga kredit perbankan dipastikan bergeser naik mengikuti pergerakan BI Rate.

"Jadi biasanya behavior-nya itu kalau BI rate itu naik, yang naik duluan adalah kenaikan di suku bunga kredit di perbankan.

Maksudnya ini respons daripada perbankan komersialnya dengan kenaikan tingkat suku bunga acuan," ucap Faisal.

Meskipun demikian, kecepatan dan besaran penyesuaian bunga tidak akan seragam di seluruh industri perbankan.

Setiap bank komersial memiliki sensitivitas dan kebijakan internal yang berbeda dalam merespons pasar.

"Nah KPR pada dasarnya ya juga in general menurut saya akan mengikuti otomatis, ya. Jadi itu akan naik respons, ya.

Walaupun biasanya juga untuk masing-masing bank mungkin reaksinya mungkin berbeda-beda," sambung Faisal.

>>> Rachel/Febi Lolos ke Babak Kedua Australian Open 2026

Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,25 persen.