Kenaikan justru bertumpu pada layanan transportasi massal perkotaan.

Jumlah pengguna KRL Jabodetabek naik 2,10%, MRT melonjak 11,29%, LRT meningkat 11,61%, dan kereta cepat Whoosh bertumbuh 7,76% MtM.

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Haris Muhammadun menilai pertumbuhan jumlah pengguna kereta perkotaan mencerminkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin memilih transportasi publik untuk aktivitas sehari-hari.

Kepadatan lalu lintas yang terus meningkat mendorong warga beralih ke moda transportasi yang menawarkan efisiensi waktu tempuh lebih pasti.

"Sehingga masyarakat sudah mulai cerdas. Memilih untuk melakukan pergerakan dengan menggunakan angkutan umum, terutama di commuter line," ujarnya.

>>> BPJS Kesehatan Usul Penyesuaian Iuran JKN Fokus pada Segmen PBI

Haris mengatakan commuter line masih menawarkan keunggulan dari sisi ketepatan waktu, keandalan, keamanan, dan keselamatan dibandingkan moda transportasi lainnya untuk mobilitas perkotaan.

Faktor finansial juga dinilai memengaruhi kelesuan perjalanan jarak jauh.

Perluasan jaringan jalan tol membuat pola transportasi keluarga bergeser ke penggunaan kendaraan pribadi yang dinilai lebih hemat biaya dibandingkan tiket pesawat atau kereta jarak jauh.

"Begitu berkeluarga, hitung-hitungannya akan lebih murah menggunakan kendaraan pribadi," katanya. Daya beli yang masih dalam tahap pemulihan membuat masyarakat lebih sensitif terhadap ongkos perjalanan.

Imbasnya, agenda bepergian yang tidak mendesak cenderung ditunda atau dialihkan ke opsi yang lebih ramah kantong.

Pola pergerakan April 2026 mengindikasikan aktivitas harian pekerja dan sekolah tetap bergairah. Perubahan signifikan hanya terjadi pada pergerakan luar kota pasca-musim mudik.

Sinyal Perlambatan Konsumsi Rumah Tangga

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, data April menunjukkan adanya dua jenis mobilitas yang bergerak dalam arah berbeda.