Meskipun volume total penumpang kereta meningkat, penopang utamanya adalah mobilitas wajib harian warga kota.

Pengguna KRL yang mencapai 30,6 juta orang menyumbang hampir dua pertiga total penumpang kereta nasional. "Dari sini muncul gambaran yang cukup jelas.

Orang masih bepergian untuk bekerja, sekolah, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Mobilitas yang sifatnya wajib tetap berjalan.

Namun perjalanan yang lebih mahal dan bisa ditunda mulai dikurangi," ujarnya kepada Bisnis.

Yusuf menambahkan, penyusutan jumlah penumpang pesawat domestik tahunan yang menembus 15,85% menandakan adanya andil faktor finansial di luar siklus normalisasi pasca-Lebaran.

Melambungnya tarif avtur berimbas pada beban operasional maskapai, yang kemudian memengaruhi keputusan belanja konsumen untuk transportasi udara.

"Ketika pengeluaran rumah tangga mulai terasa lebih ketat, perjalanan udara biasanya menjadi salah satu pos yang paling mudah dikurangi," ujarnya.

Kondisi ini sejalan dengan meredanya stimulus musiman kuartal I/2026 seperti Tunjangan Hari Raya (THR), gaji ke-14, serta program diskon perjalanan.

"Data transportasi April bisa dibaca sebagai sinyal awal bahwa laju konsumsi masyarakat tidak sekuat beberapa bulan sebelumnya," ujarnya.

Kendati denyut ekonomi inti masih terjaga lewat tingginya mobilitas harian, penurunan pergerakan antarprovinsi ini perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada industri pariwisata, perhotelan, hingga sektor kuliner daerah.

>>> Ariana Grande Fokus Tur dan Album Petal Setelah Hubungannya dengan Ethan Slater Berakhir

Core memproyeksikan adanya kontraksi absolut pada mobilitas publik serta perlambatan signifikan pada konsumsi rumah tangga untuk kuartal II/2026 jika dibandingkan triwulan pertama.