Kelompok peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan bahwa Indonesia perlu meninjau ulang dan memperbarui data titik dasar batas laut negara.

Dari total 195 titik dasar yang telah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2009, tim ITB menemukan 50 titik di antaranya sudah tidak akurat lagi.

>>> IHSG Melonjak 4,82 Persen ke Level 5.599 Berkat Redanya Konflik Timur Tengah

Riset ini dipimpin oleh Prof Dr Ir Eka Djurnarsjah MT.

Hasil kajian telah dipublikasikan dalam makalah berjudul "Aplikasi Satellite Derived Bathymetry (SDB) untuk Perbaikan Titik-Titik Dasar Batas NKRI".

Ketidakakuratan puluhan titik koordinat tersebut dipicu oleh pergeseran kondisi alam serta dinamika di kawasan pesisir.

Teknologi SDB Jadi Solusi

Para ilmuwan memanfaatkan teknologi Satellite Derived Bathymetry (SDB) yang mengandalkan citra satelit untuk memperoleh informasi kedalaman air.

Melalui SDB, proses pembaruan data di lokasi sulit dijangkau seperti Gorontalo atau pulau-pulau terluar dapat dilakukan secara lebih hemat.

>>> Ramalan Zodiak Cinta: Kunci Jaga Keharmonisan Hubungan

Perubahan ini juga berdampak pada acuan vital atau titik nol kedalaman yang menjadi dasar penarikan garis pangkal wilayah laut Indonesia, meliputi Laut Teritorial (12 mil), Zona Ekonomi Eksklusif (200 mil), hingga Landas Kontinen.

Eka dan tim meyakini teknologi SDB mampu menetapkan kedalaman laut di area dangkal dengan lebih cepat dan efisien.

Penerapan SDB dinilai strategis bagi kedaulatan wilayah Indonesia melalui validasi ulang titik-titik dasar.

Penggunaan SDB dapat memperkuat klaim batas laut Indonesia di dunia internasional karena memiliki landasan ilmiah yang solid.

>>> Rupiah Menguat ke Rp 18.148 per Dolar AS, Terdorong Pelemahan Indeks Dolar

Melalui riset ini, Eka bersama tim berharap metode tersebut dapat ditetapkan sebagai standar baru dalam menentukan batas wilayah laut di masa depan.