Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 4,82% atau 257,60 poin ke level 5.599,74 pada penutupan sesi I perdagangan Selasa (9/6/2026).

Lonjakan ini terjadi setelah sehari sebelumnya bursa domestik terpuruk ke level terendah sejak November 2020.

>>> Ramalan Zodiak Cinta: Kunci Jaga Keharmonisan Hubungan

Sebanyak 603 saham mencatatkan penguatan, 118 saham melemah, dan 92 saham bergerak stagnan.

Total volume transaksi mencapai 24,7 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 13,8 triliun.

Sentimen Positif dari Timur Tengah

Kenaikan IHSG sejalan dengan sentimen positif di pasar saham Asia. Investor merespons pernyataan Israel dan Iran yang sepakat menghentikan serangan untuk sementara waktu.

Meredanya ketegangan geopolitik global mendorong harga minyak turun dari level tertingginya. Pelaku pasar kembali memburu saham-saham teknologi dan semikonduktor.

Di Asia, indeks Korea Selatan melonjak 3,4%, Nikkei 225 Jepang naik 0,9%, dan MSCI Asia Pacific di luar Jepang menguat 1,5%.

Pasar saham China juga positif, dengan indeks blue-chip naik 0,4% setelah data ekspor Mei 2026 tumbuh 19,4% secara tahunan, melampaui ekspektasi.

>>> Rupiah Menguat ke Rp 18.148 per Dolar AS, Terdorong Pelemahan Indeks Dolar

Kinerja Sektor dan Saham Unggulan

Seluruh indeks sektoral berada di zona hijau.

Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi adalah IDX Industrial (5,93%), IDX Basic Materials (5,71%), dan IDX Energy (5,08%).

Di jajaran LQ45, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat penguatan terbesar 11,86% ke Rp 2.830.

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) naik 10,48% menjadi Rp 1.160, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menguat 9,89% ke Rp 1.500.

Peringatan Analis

Meski sentimen membaik, Bank of America (BofA) mencatat hampir separuh pasar saham global dalam kondisi jenuh beli (overbought), terutama di Korea Selatan, Taiwan, dan Finlandia.

Tekanan inflasi global masih tinggi. Sebanyak 46 dari 68 bank sentral dunia menghadapi inflasi di atas target.

>>> Detik-Detik War Tiket BTS, ARMY Padati Warnet di Jakarta

Pasar obligasi mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat. Suku bunga global yang bertahan tinggi berpotensi menjadi tantangan bagi pasar saham.