Hal ini terjadi karena harga perangkat dan material pendukung yang menjadi kebutuhan utama mereka sudah lebih dulu mengalami kenaikan.

Tekanan terhadap total biaya proyek juga dipicu oleh kebutuhan penggantian alat kerja berbasis impor yang ikut membengkak.

Situasi fluktuasi ekonomi ini pada akhirnya mengubah struktur pengeluaran operasional secara keseluruhan.

“Hal ini berpotensi mendorong peningkatan biaya total proyek meski proporsinya lebih kecil dibanding kenaikan pada perangkat,” kata Jerry.

Dampak pada Perangkat TI dan Gawai

Lebih lanjut, Jerry memaparkan bahwa sektor teknologi informasi (TI) dan sarana jaringan di Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi pada produk impor.

Oleh karena itu, ketidakstabilan nilai tukar langsung mengompromikan struktur biaya para pelaku industri.

Merosotnya nilai tukar rupiah ini membuka peluang naiknya harga berbagai gawai dan komparator TI.

Walaupun harga perangkat sempat membaik karena meredanya krisis chip global setahun lalu, pelemahan mata uang kini kembali menaikkan beban impor.

>>> Pemko Medan Diminta Kaji Alih Fungsi Sekolah Terbengkalai Sei Mati

Jenis gawai yang berpotensi terdampak antara lain laptop dan PC yang memakai komponen impor, server, storage, serta perangkat jaringan seperti router, switch, dan firewall.

Komponen esensial seperti chipset, modul memori, power supply unit (PSU), dan peripheral lainnya juga ikut terancam.

Bagi pihak distributor maupun integrator jaringan, efek dari depresiasi kurs ini akan langsung memukul sektor pengadaan barang mereka.

Sejumlah pelaku usaha memprediksi kenaikan harga perangkat berkisar antara 5% hingga 10%, yang realisasinya tergantung pada durasi pelemahan rupiah serta kesepakatan kontrak dengan vendor.

Strategi Mitigasi dan Respons Pelaku Industri

Guna menghadapi tantangan ekonomi ini, Apjatel meminta para pelaku industri segera menerapkan sejumlah strategi mitigasi.