Kondisi ini membuat para penyintas kerap terlunta-lunta dan terpaksa bergantung pada bantuan badan amal, warga lokal, serta kedutaan asing untuk mendapatkan tempat berlindung dan mengurus kepulangan.

Para ahli memaparkan adanya tren baru di mana pusat penipuan besar kini pecah menjadi operasi-operasi kecil di kawasan permukiman.

Strategi ini sengaja dilakukan agar aktivitas mereka semakin sulit dilacak aparat.

Banyak penyintas yang telah dibebaskan dilaporkan terjerumus kembali ke dalam jaringan perdagangan manusia lainnya karena tidak memiliki akses bantuan memadai untuk kembali ke negara asal.

Kawasan Asia Tenggara, khususnya Kamboja, Myanmar, dan Laos, telah berkembang menjadi pusat industri penipuan daring dengan keuntungan miliaran dolar setiap tahun.

Fenomena global ini melibatkan ribuan pekerja yang menjadi korban perdagangan manusia dari berbagai negara. Mereka dipaksa melakukan berbagai skema penipuan global di bawah ancaman kekerasan.

Jenis kejahatan yang dilakukan meliputi investasi bodong, perjudian daring, hingga penipuan asmara.

Lemahnya pengawasan hukum, praktik korupsi, serta lokasi operasi yang terus berpindah-pindah membuat kompleksitas kejahatan ini semakin tinggi.

>>> 10 Produk Unitlink Saham dengan Return Tertinggi pada Mei 2026

Situasi tersebut kini menjadi salah satu tantangan keamanan manusia terbesar di kawasan Asia Tenggara.