Thailand menjadi titik awal runtuhnya nilai mata uang di Asia Tenggara pada tahun 1997. Pemerintah bahkan meminta warga menyerahkan perhiasan emas mereka untuk dilebur demi memperkuat cadangan devisa.

Krisis serupa langsung menghantam Indonesia hingga membuat nilai tukar rupiah merosot tajam dari kisaran Rp 2.000 menjadi Rp 16.650 per dolar AS.

Ketidakstabilan ini berujung pada mundurnya Presiden Soeharto.

>>> Jadwal dan Harga Tiket Kapal DLN Balikpapan Surabaya Juni 2026

Presiden Habibie yang mengambil alih kepemimpinan langsung fokus melakukan pemulihan. Langkah strategisnya meliputi penataan ulang sektor perbankan, jalinan kerja sama dengan IMF, dan pengembalian kepercayaan pasar.

India mencatatkan kebangkrutan pada tahun 1991 dengan tingkat inflasi menyentuh 12,1 persen. Devisa yang tersisa saat itu bahkan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan impor selama dua pekan.

Pemerintah India terpaksa menerbangkan cadangan emas negara untuk dijadikan jaminan utang kepada IMF. Dana talangan sebesar 2,5 miliar dolar AS kemudian mengalir dibarengi reformasi struktur ekonomi.

Di Amerika Latin, Argentina terperosok ke dalam resesi panjang sejak 1998 hingga 2002. Angka pengangguran melonjak di atas 20 persen dan mayoritas penduduk jatuh ke bawah garis kemiskinan.

Ukraina juga sempat menderita hiperinflasi ekstrem hingga 4.735 persen pada tahun 1993 akibat belum matangnya sistem moneter pasca-runtuhnya Uni Soviet.

Kondisi diperparah maraknya praktik korupsi aset negara oleh politisi.

Sementara itu, Yunani memalsukan data keuangan pada tahun 2001 demi bisa mengadopsi mata uang euro.

Kebohongan ini berujung pada tumpukan utang kronis yang membuat IMF dan Uni Eropa harus turun tangan pada tahun 2010.

Zimbabwe mencatatkan rekor kelam pada November 2008 dengan inflasi bulanan mencapai 79,6 miliar persen.

Bank sentral setempat bahkan sampai menerbitkan lembaran uang kertas dengan pecahan 100 triliun dolar AS.

Negara tersebut sempat menghapus mata uang lokal dan beralih menggunakan dolar AS untuk menstabilkan harga.

Namun, kebijakan dolarisasi ini memicu ketergantungan tinggi terhadap pasokan mata uang dari luar negeri.

Pada tahun 2024, Bank Sentral Zimbabwe meluncurkan mata uang baru bernama ZiG yang nilainya dipatok pada cadangan emas.

>>> SPBU Turunkan Harga BBM Diesel per 8 Juni 2026, Dexlite dan Pertamina Dex Terpangkas

Langkah ini diambil untuk mengendalikan peredaran uang tunai dan menjaga stabilitas nilai tukar.