Banyak negara di dunia tercatat pernah menghadapi guncangan ekonomi hebat yang meruntuhkan nilai mata uang domestik mereka.

Salah satu peristiwa yang paling membekas adalah krisis finansial yang melanda Indonesia pada tahun 1998.

>>> Florentino Perez Desak UEFA Cabut Seluruh Gelar Juara Barcelona

Krisis terparah pada abad ke-20 bermula dari jatuhnya bursa saham Wall Street pada tahun 1929. Peristiwa ini memicu kemerosotan ekonomi di Amerika Serikat selama satu dekade.

Amerika Serikat juga kembali menghadapi persoalan besar pada tahun 1973 akibat embargo minyak oleh negara-negara OPEC.

Langkah kelompok negara Arab tersebut memicu kelangkaan bahan bakar dan lonjakan harga yang memukul ekonomi global.

Krisis di Asia dan Eropa

Vietnam sempat mengalami kehancuran sistem ekonomi total pascaperang akibat kebijakan kolektivisasi pertanian dan industri.

Situasi pada tahun 1980-an ini diperparah kerusakan lahan produktif dan memicu inflasi hingga tiga digit.

Krisis tersebut mereda setelah pemerintah setempat meluncurkan paket reformasi ekonomi bernama Đổi Mới. Kebijakan ini berhasil membalikkan keadaan dan memacu pertumbuhan pesat pada era 1990-an.

Rusia juga mengalami kebangkrutan pada tahun 1998 setelah gagal membayar obligasi domestik senilai 40 miliar dolar AS.

Dampaknya, inflasi menembus angka 84 persen dan memicu gelombang penutupan lembaga perbankan.

Gelombang aksi protes pekerja dan kelangkaan bahan pangan sempat melumpuhkan negara beruang merah ini. Perekonomian Rusia baru merangkak naik setelah harga komoditas energi dunia kembali meroket.

Gejolak di Rusia dan Asia kemudian merembet ke Brasil hingga memicu penarikan modal massal sebesar 2 miliar dolar AS per hari.

Krisis ini memaksa IMF dan Bank Dunia mengucurkan dana talangan 41,5 miliar dolar AS.