"Investor masih mencermati potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia," kata Analis UBS, Giovanni Staunovo.

>>> Timnas Indonesia Targetkan Kemenangan Beruntun Lawan Mozambik di GBK

Duta Besar Iran untuk Rusia menyatakan Selat Hormuz akan tetap dibuka dengan persyaratan tertentu dari Iran dan Oman termasuk biaya transit.

Sementara itu, Komandan Pasukan Quds Iran Esmail Qaani menyebut akan dibentuk sabuk keamanan baru dari Selat Hormuz hingga Selat Bab el-Mandeb.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran ikut mengumumkan larangan melintas bagi kapal-kapal yang memiliki afiliasi dengan Israel di kawasan Laut Merah.

Harapan pasar saat ini cenderung tertuju pada solusi jangka pendek untuk mengamankan jalur distribusi minyak global.

"Pasar saat ini berharap tercapai kesepakatan terbatas yang mampu mencegah gangguan lebih lanjut terhadap jalur energi global tanpa harus menyelesaikan seluruh akar konflik yang ada," kata Analis SEB Research, Erik Meyersson.

Dari sektor pasokan, kelompok OPEC+ telah menyepakati kenaikan target produksi minyak untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir pada Minggu (7/6/2026).

Namun langkah OPEC+ ini diprediksi tidak membawa perubahan besar pada ketersediaan stok riil di pasar.

Kendala kuota produksi terganggu oleh konflik Timur Tengah dan serangan drone Ukraina ke infrastruktur energi Rusia.

Volume produksi riil diproyeksikan tidak akan mengalami pergeseran berarti dalam waktu dekat.

"Dalam kondisi pasar saat ini, dampak riil dari keputusan tersebut hampir mendekati nol," kata Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon.

Pada perkembangan terpisah, Arab Saudi dilaporkan kembali menurunkan harga jual resmi untuk minyak mentah ke pasar Asia pada periode Juli 2026.

>>> Juara Liga Kolombia 2026 Raih Hadiah Jutaan Dolar dan Tiket Libertadores

Ini menjadi penurunan harga dalam dua bulan berturut-turut.