Bitcoin kini telah kehilangan sekitar setengah nilainya dari puncak tertingginya di atas US$ 126.000 pada Oktober 2025.

Selain faktor internal perusahaan, tekanan jual pekan lalu juga dipicu oleh penarikan dana dari ETF Bitcoin, ketegangan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap kelangsungan perusahaan yang memegang aset kripto sebagai cadangan kas.

Situasi semakin dipersulit dengan konflik Israel-Iran yang terus membayangi prospek ekonomi global.

Volatilitas Bitcoin yang tinggi sering kali dipengaruhi oleh ketergantungannya pada sentimen investor institusional dan kondisi makroekonomi global.

Dalam ekosistem pasar kripto, perusahaan seperti Strategy Inc. yang menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari cadangan kas memiliki peran krusial sebagai penyokong permintaan pasar.

Ketika perusahaan-perusahaan ini melakukan aksi jual atau menimbulkan ketidakpastian kebijakan, pasar bereaksi secara emosional, terutama di tengah situasi geopolitik yang memanas seperti konflik Israel-Iran.

>>> Pemerintah Tindak Lanjuti Pemberhentian Tidak Hormat Ketua Ombudsman

Selain itu, pergeseran minat investor pada instrumen keuangan lain (seperti ETF) dan kekhawatiran akan inflasi membuat aset kripto rentan terhadap aksi jual masif, yang sering kali membutuhkan respons cepat dari pelaku pasar besar untuk mengembalikan kepercayaan publik.