Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguji level 5.100 pada perdagangan Selasa (9/6/2026).

Sentimen negatif dari dalam dan luar negeri membayangi pergerakan indeks di pasar modal.

>>> Penjualan Mobil China Anjlok 22,3% pada Mei 2026 Akibat Krisis Energi

Pada perdagangan Senin (8/6/2026), IHSG ditutup melemah di level 5.342,1 atau merosot 4,52%.

Seluruh sektor saham mengalami pelemahan dengan penurunan terdalam pada saham sektor industri yang mencapai 6,39%.

Kemerosotan dipicu oleh hilangnya kepercayaan investor di pasar internal serta diperparah oleh memanasnya situasi geopolitik eksternal. Iran dan Israel dilaporkan saling meluncurkan serangan, yang mengancam ketahanan gencatan senjata.

Ketegangan di Timur Tengah ini memicu kenaikan harga minyak mentah lebih dari 4% pada Senin (8/6/2026).

Kondisi tersebut memperbesar risiko keberlanjutan inflasi dan berpotensi memperlebar defisit APBN 2026.

Mayoritas indeks saham di bursa Asia turut berakhir di zona merah akibat eskalasi konflik Timur Tengah dan koreksi pada saham sektor teknologi.

>>> IHSG Anjlok 4,52 Persen, Investor Disarankan Beli Bertahap

Mata uang rupiah ditutup melemah 0,84% ke posisi Rp 18.188 per dolar AS pada Senin (8/6/2026).

Proyeksi Teknikal dan Rekomendasi

Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA200 monthly, sehingga potensi penurunan lebih lanjut masih berpeluang terbuka. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.100.

Di sisi lain, MNC Sekuritas memprediksi para investor perlu mencermati rentang 5.184-5.282 sebagai area koreksi IHSG selanjutnya.

Lembaga ini memberikan rekomendasi saham ASII, BULL, JPFA, dan NICL untuk aktivitas trading pada Selasa (9/6/2026).

Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah dan situasi geopolitik di Timur Tengah ini mulai berdampak pada industri galangan kapal.

Sementara itu, data ekonomi mencatat cadangan devisa Indonesia berada di angka US$ 144,9 miliar pada Mei 2026 setelah turun lima bulan berturut-turut.

>>> MSIG Life Bayar Klaim Rp227,29 Miliar pada Kuartal I 2026

Kendati pasar saham dan rupiah terguncang, Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai ekonomi Indonesia tidak akan mengalami resesi.