Angka itu membengkak menjadi US$647 miliar setelah disesuaikan dengan biaya hidup antarnegara.

>>> Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional

Evaluasi terbaru WHO memperluas pemantauan pada 42 bahaya utama dalam rantai makanan di 194 negara selama 2000–2021.

Riset ini juga menghitung risiko yang sebelumnya kurang terpantau, seperti logam berat, rotavirus, dan parasit penyebab penyakit Chagas.

WHO menegaskan bahwa kontaminasi bahan kimia dalam pangan sulit dibersihkan setelah terjadi.

Tindakan preventif harus digalakkan dari hulu melalui sistem pertanian yang lebih baik, kontrol industri yang ketat, dan penguatan aturan lingkungan.

Laporan ini juga mengungkap dampak kesehatan yang sebelumnya minim data, termasuk penyakit jantung, kanker, dan hambatan intelektual akibat logam berat dalam makanan.

Arsenik anorganik dan timbal terkait dengan lebih dari satu juta kematian per tahun. Sementara itu, metilmerkuri berisiko menyebabkan gangguan perkembangan otak permanen, terutama pada anak-anak.

Kesenjangan Beban Penyakit di Berbagai Wilayah

Asia Tenggara dan Afrika menyumbang hampir tiga perempat dari total kasus infeksi makanan dan sekitar 60% kematian global akibat pangan tercemar.

Risiko lebih tinggi dihadapi kelompok rentan seiring perubahan pola konsumsi, tekanan lingkungan, globalisasi logistik pangan, dan keterbatasan infrastruktur di negara miskin.

Petugas teknis WHO untuk keamanan pangan, Yuki Minato, mengatakan bahwa penyakit bawaan makanan semakin kompleks akibat perubahan iklim dan resistensi antimikroba.

"Laporan ini bukan sekadar peringatan, tetapi juga peta jalan," ujarnya.

Yuki menyarankan penerapan strategi One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan untuk mengurangi risiko kontaminasi pangan.

>>> Kemendag Siapkan Negosiasi Tarif Ekspor Baru dengan AS

Setiap negara disarankan memperkuat sistem pengawasan, meningkatkan investasi keamanan pangan, dan memperkuat sinergi lintas sektor.