Fenomena Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 menjadi salah satu peristiwa astronomi paling dinantikan tahun itu.

Peristiwa ini terjadi saat Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, mengubah siang hari menjadi gelap seperti senja.

>>> Ekonomi AS Solid Picu Kekhawatiran Inflasi Tinggi dan Tekan Rupiah

Menurut NASA dan ESA, gerhana ini merupakan yang pertama dapat disaksikan dari daratan utama Eropa sejak 1999.

Jalur Totalitas dan Wilayah yang Terdampak

Berdasarkan data NASA Goddard Space Flight Center, puncak gerhana terjadi pada 12 Agustus 2026 dengan fase totalitas berlangsung beberapa menit.

ESA mengonfirmasi jalur totalitas melintasi Greenland timur, Islandia barat, utara Spanyol, dan sebagian timur laut Portugal.

Di wilayah tersebut, pengamat dapat melihat korona Matahari yang biasanya tidak tampak dengan mata telanjang.

Sebagian besar Eropa lainnya, Afrika barat, Atlantik Utara, dan beberapa kawasan Amerika Utara hanya mengalami gerhana sebagian.

>>> Harga Emas Antam 8 Juni 2026 Stagnan di Rp 2.743.000 per Gram

Saat totalitas, suhu udara turun sementara dan langit menjadi gelap meski masih siang hari.

Dampak Pengamatan di Indonesia

Berdasarkan peta jalur gerhana NASA dan ESA, Indonesia tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan gerhana total.

Masyarakat Indonesia hanya bisa mengikuti fenomena ini melalui siaran langsung dari observatorium atau lembaga antariksa internasional.

ESA menyebut gerhana ini sebagai salah satu peristiwa astronomi terbesar di Eropa dalam beberapa dekade.

>>> HYBE Labels Rilis Single Kolaborasi Tiga Girlband pada Juni 2026

Spanyol diperkirakan menjadi negara dengan area totalitas terbesar, berpotensi menjadi tujuan wisata astronomi global.