Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan penurunan jumlah calon emiten yang mengantre dalam pipeline penawaran umum perdana saham (IPO).

Per Senin (8/6/2026), tercatat hanya 12 perusahaan yang masih dalam antrean, turun dari sebelumnya 15 perusahaan.

>>> Christian Eriksen Kolaps Saat Denmark Hadapi Ukraina, Pertandingan Dihentikan

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Nyoman, mengungkapkan beberapa faktor yang memengaruhi pengurangan tersebut.

"Ada yang merevisi laporan keuangan menggunakan laporan keuangan terbaru, lalu ada yang masih membutuhkan kelengkapan dokumen, serta ada yang belum disetujui," jelas Nyoman.

Berdasarkan skala aset, empat calon emiten masuk kategori aset menengah (Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar), sementara delapan lainnya masuk kategori aset besar (di atas Rp 250 miliar).

Dari segi sektor, consumer cyclical dan kesehatan masing-masing menyumbang tiga perusahaan. Disusul consumer non-cyclicals dan infrastruktur masing-masing dua perusahaan, serta keuangan dan teknologi masing-masing satu perusahaan.

>>> IHSG Merosot 2,87 Persen, Lo Kheng Hong Sebut 'Hujan Emas' di Bursa

Hingga 5 Juni 2025, BEI mencatat satu perusahaan telah melantai di bursa dengan total dana terkumpul Rp 0,30 triliun.

Selain saham, BEI juga mengelola penerbitan 63 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 40 penerbit dengan dana terhimpun Rp 69,94 triliun.

Per 5 Juni 2026, masih terdapat 53 emisi dari 36 penerbit EBUS dalam antrean.

>>> Prabowo Tunjuk Said Iqbal sebagai Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan

Untuk rights issue, tercatat empat emiten telah merilis aksi korporasi senilai Rp 3,89 triliun, dengan satu perusahaan sektor properti dan real estate masih dalam pipeline.