Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,87 persen pada akhir sesi I perdagangan Senin (8/6/2026).

Indeks ditutup di level 5.434,3.

>>> Prabowo Tunjuk Said Iqbal sebagai Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan

Sepanjang sesi pertama, IHSG bergerak dalam rentang 5.346,33 hingga 5.523,94.

Data Bursa Efek Indonesia mencatat sebanyak 646 saham melemah, 88 saham menguat, dan 79 saham stagnan.

Total nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp 12,92 triliun. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif IHSG yang konsisten berada di zona merah sejak 3 Juni 2026.

Akumulasi penurunan IHSG dalam sebulan terakhir mencapai 24,25 persen.

Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 25,72 triliun pada periode 6 Mei hingga 5 Juni 2026.

>>> Harga Batu Bara Newcastle Tembus Tertinggi dalam Dua Tahun

Lo Kheng Hong: Koreksi Adalah Peluang

Kondisi pasar yang tertekan mendapat tanggapan dari investor kawakan nasional, Lo Kheng Hong. Menurutnya, aksi jual asing menyebabkan harga saham blue chip turun signifikan.

"Dana asing kabur, harga saham blue chip turun banyak," ujar Lo Kheng Hong. Ia justru melihat situasi ini sebagai momentum bagi investor domestik.

"Artinya, sedang terjadi hujan emas di Bursa Efek Indonesia. Ambillah ember yang besar untuk menampung hujan emas di sana," sambungnya.

Lo Kheng Hong menegaskan bahwa koreksi pasar adalah waktu yang tepat untuk mengumpulkan saham berkualitas dengan harga murah.

>>> Hari Laut Sedunia 2026: Krisis Ekologis di Perairan Indonesia Semakin Parah

"Itu wejangan untuk investor saham ketika pasar koreksi besar," pungkasnya.