PT CIMB Niaga Tbk merasakan dampak signifikan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap bisnis trade finance. Layanan pembiayaan perdagangan ini erat kaitannya dengan aktivitas ekspor-impor nasabah.

Direktur Business Banking CIMB Niaga Rusly Johannes mengungkapkan, pelemahan rupiah membuat biaya impor semakin mahal. Sementara itu, aktivitas ekspor justru meningkat karena permintaan asing terhadap produk domestik naik.

>>> IHSG Anjlok 35,52 Persen Sepanjang Tahun, Tertekan Sentimen Global

"Di satu sisi, biaya impor menjadi lebih mahal bagi pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Namun di sisi lain, eksportir memperoleh keuntungan dari peningkatan daya saing harga produk Indonesia di pasar global," kata Rusly kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).

Pertumbuhan Ekspor Lebih Cepat

Rusly menjelaskan, bisnis trade finance CIMB Niaga saat ini masih tumbuh positif. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas ekspor di sektor manufaktur dan komoditas.

>>> IHSG Anjlok 3,4% di Sesi I, Saham BBCA Justru Diborong Investor Domestik

Namun, pembiayaan untuk aktivitas impor tumbuh lebih moderat akibat tekanan biaya dari pelemahan rupiah.

"Pertumbuhan transaksi ekspor secara tahunan di CIMB Niaga jauh lebih cepat dibandingkan transaksi impor di periode Januari-Mei 2026," ucapnya.

Rusly memproyeksikan transaksi ekspor di CIMB Niaga akan tetap tumbuh hingga akhir tahun 2026. Meski demikian, pertumbuhannya mungkin tidak setinggi tahun sebelumnya.

>>> Korlantas Polri Tunda Operasi Patuh 2026 Demi Hari Bhayangkara

Untuk transaksi impor, ia menyebut ada potensi perlambatan pertumbuhan. Beberapa transaksi impor cenderung berubah menjadi transaksi dalam negeri.