Pasar saham Selandia Baru mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Indeks acuan S&P/NZX 50 anjlok hingga 1,6 persen ke level 12.950,00 pada awal perdagangan.

>>> Rumor Makan Malam Jensen Huang Dongkrak Saham Daging Babi Korea

Penurunan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengikis harapan investor akan perdamaian regional.

Kondisi tersebut juga menunda pemulihan jalur distribusi minyak mentah dunia di Selat Hormuz.

Kejatuhan ini membawa indeks menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir.

Rapor merah ini berbanding terbalik dengan performa hari Jumat lalu, di mana indeks sempat ditutup menguat 0,5 persen.

Aksi jual masif di bursa Wellington dipicu oleh kegagalan draf gencatan senjata setelah Israel mendadak menggempur Lebanon pada hari Minggu.

Serangan tersebut langsung dibalas oleh Iran yang meluncurkan salvo rudal ke wilayah kedaulatan Israel.

Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membatalkan retaliasi, pelaku pasar terlanjur merespons negatif potensi risiko gangguan energi global.

Kondisi internal Selandia Baru kian memperberat sentimen pasar modal setempat.

Meski perekonomian domestik secara teknis telah keluar dari jurang resesi, laju pertumbuhan ekonomi Selandia Baru dinilai masih sangat lemah.

Kombinasi antara gejolak geopolitik Timur Tengah, ancaman inflasi global, serta kebijakan fiskal dalam negeri yang ketat terus menjadi beban berat bagi korporasi.

Sentimen pasar juga dibayangi oleh proyeksi kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral.

>>> ASCOPE dan PEI Buka Pendaftaran Fellowship ASPIRE Batch II untuk Mahasiswa

Akhir Mei lalu, Asisten Gubernur Bank Sentral Selandia Baru (RBNZ), Karen Silk, memperingatkan bahwa tekanan inflasi di dalam negeri tetap berisiko meningkat.