Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur.

Hal ini dipicu oleh masalah pasokan dan tingginya harga gas industri.

>>> OECD Proyeksikan Defisit Anggaran Indonesia Melebar ke 3 Persen pada 2026

Lonjakan biaya energi dinilai membebani ongkos produksi hingga mengganggu aktivitas operasional perusahaan.

Ancaman pengurangan tenaga kerja dalam skala besar kini membayangi sektor padat karya, seperti industri keramik dan sepatu.

Andi Gani mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia segera mengambil kebijakan cepat. Langkah ini diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dunia usaha.

Pernyataan tersebut disampaikan usai menghadiri Kongres III Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) di Jakarta Pusat.

Pihak serikat pekerja telah berupaya membuka komunikasi dengan Kementerian ESDM, namun belum membuahkan hasil.

"Gas industri, kami sudah mencoba bertemu Menteri ESDM.

Sampai hari ini kami merasa lebih mudah bertemu Presiden Prabowo daripada bertemu Menteri ESDM," katanya kepada awak media.

Kondisi operasional pabrik saat ini kian tertekan akibat akumulasi produk yang tidak terserap pasar. Tingginya harga jual dipicu oleh pembengkakan biaya energi.

>>> Pekerja Pemugaran Candi Losari Magelang Temukan Kepingan Logam Diduga Emas

"Gas industri ini akan menyebabkan badai PHK yang luar biasa dalam waktu terdekat. Karena harga gas industri sudah tidak bisa tercapai, sudah tidak masuk akal," ujarnya.

Penurunan volume produksi berdampak langsung pada pengurangan alokasi waktu kerja karyawan. Stok barang menumpuk di gudang karena produksi terhambat.

"Banyak barang produksi dari pabrik-pabrik industri keramik dan industri sepatu menumpuk di gudang.

Akhirnya jam kerja para buruh menjadi dikurangi karena produksinya sudah tidak ada lagi, sebab harga gas sudah tidak masuk akal," katanya.

Intervensi regulasi dari pemerintah dinilai mendesak demi menyelamatkan stabilitas industri manufaktur nasional. "Saya meminta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera mengambil kebijakan-kebijakan cepat untuk menyelesaikan persoalan gas industri.

Kalau tidak, badai PHK akan terjadi," tegasnya.

Berdasarkan data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), industri keramik dalam negeri hanya memperoleh 40 persen pasokan gas dengan harga khusus US$ 7 per MMBTU.

>>> BRIDS Turunkan Proyeksi IHSG, BBCA Jadi Pilihan Saham Pilihan

Sisa kebutuhan dibeli dengan harga pasar yang jauh lebih tinggi, sehingga rata-rata harga gas mencapai US$ 15 per MMBTU.