Dalam peristiwa itu, As’ad bin Zurarah memimpin kaum Muslimin melaksanakan salat dan mendengarkan nasihat keagamaan. Dari momentum kebersamaan itulah muncul penyebutan Jumat, yang bermakna berkumpulnya kaum Muslimin dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Secara syariat, kewajiban salat Jumat telah ditetapkan sejak peristiwa Isra Mi'raj. Namun pelaksanaannya secara terbuka baru memungkinkan setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dan para sahabat memperoleh keamanan di Madinah.

Keteladanan Ulama Salaf

Keagungan Hari Jumat tidak hanya tercermin dalam dalil-dalil agama, tetapi juga terlihat dari kecintaan para ulama terdahulu terhadap hari tersebut. Mereka berusaha mengikuti berbagai sunnah Rasulullah dengan penuh kesungguhan.

Dikisahkan sebagian ulama salaf memiliki kebiasaan keluar sejenak setelah salat Jumat, kemudian kembali ke masjid untuk melaksanakan salat sunnah. Saat ditanya alasan melakukan hal itu, mereka menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam.

Mereka juga mengaitkan amalan tersebut dengan firman Allah dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10 yang memerintahkan manusia bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah setelah salat selesai dilaksanakan, sembari tetap memperbanyak zikir.

Melalui kisah tersebut, jamaah diingatkan agar tidak memperlakukan Hari Jumat seperti hari-hari biasa. Kesempatan berdoa, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan Allah hendaknya tidak disia-siakan.

Tiga Amalan yang Dianjurkan

Pada khutbah kedua, jamaah diajak menjadikan Hari Jumat sebagai sarana mengisi kembali kekuatan iman yang berkurang selama sepekan.

Ada beberapa amalan yang dianjurkan untuk dihidupkan. Pertama, menghadiri masjid dengan niat mencari keberkahan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Kedua, mempersiapkan diri dengan mandi Jumat, mengenakan pakaian terbaik, serta menggunakan wewangian sebagai bentuk penghormatan terhadap hari yang dimuliakan.

Ketiga, memperbanyak membaca Surah Al-Kahfi, bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam, dan memanfaatkan waktu setelah Ashar hingga menjelang magrib untuk berdoa.

Khutbah ditutup dengan harapan agar Allah SWT memberikan keberkahan, mengampuni dosa-dosa di antara dua Jumat, serta menjadikan Hari Jumat sebagai sumber ketenangan bagi setiap Muslim yang menjalankannya dengan penuh keimanan.