Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) bersama USDA menegaskan bahwa sistem grading hanya berkaitan dengan tampilan visual.

Indikator ini sama sekali tidak berhubungan dengan keamanan pangan atau kadar nutrisi.

Kandungan protein dan zat gizi lainnya pada Grade B pada dasarnya identik dengan Grade A maupun AA.

Faktor utama yang menentukan keamanan konsumsi justru terletak pada prosedur penyimpanan dingin dan cara memasak hingga matang.

Pemanfaatan di Industri Makanan

Alasan utama komoditas ini jarang ditemukan di rak supermarket adalah karena faktor estetika visualnya.

Penampilannya kurang menarik saat disajikan sebagai telur goreng atau telur rebus setengah matang karena bentuknya mudah melebar.

Kondisi putih telur yang encer juga membuatnya tidak ideal untuk jenis hidangan yang memerlukan keutuhan bentuk.

Oleh karena itu, pengelola swalayan lebih memilih memajang produk dengan grade yang lebih tinggi.

Sebagai gantinya, industri makanan skala besar menjadi penyerap utama pasokan Grade B.

Bahan ini diolah lebih lanjut menjadi produk telur cair, telur beku, atau telur bubuk untuk kebutuhan pembuatan kue dan layanan restoran.

Sektor ritel atau supermarket hanya akan menjual Grade B dalam kondisi mendesak, seperti saat terjadi gangguan pasokan akibat wabah flu burung.

>>> 7 Cara Mengatasi Sinyal iPhone Hilang dengan Mudah

Secara keseluruhan, pemilihan jenis telur dapat disesuaikan dengan tujuan metode memasak di dapur.