Fase bermain menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung proses tumbuh kembang anak. Melalui aktivitas ini, anak dapat mengasah kemampuan kognitif sekaligus kompetensi sosial mereka sejak dini.

Salah satu tahap yang krusial dalam lini masa ini adalah parallel play atau bermain paralel.

>>> Mengenal Arti Simbol Bunga Matahari yang Menyimpan Pesan Menakjubkan

Fase ini merujuk pada kondisi ketika anak bermain secara mandiri di dekat anak lain tanpa adanya interaksi langsung.

Tahap ini umumnya berlangsung pada masa balita hingga usia prasekolah.

Meskipun berada di lokasi yang sama dan menggunakan jenis mainan serupa, alur permainan antar-anak tersebut tidak saling terhubung.

Bermain paralel memegang peran sebagai fondasi awal bagi kemampuan komunikasi serta interaksi sosial anak.

Fase ini memberikan kesempatan bagi anak untuk mengamati lingkungan sekitar dan meniru perilaku teman sebayanya.

Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall.

Ia menjelaskan transisi bermain anak, mulai dari bermain sendiri saat bayi hingga bermain bersama orang lain saat prasekolah.

Praktisi perkembangan anak usia dini, Gabrielle Felman, LCSW, mengatakan bahwa orang tua mungkin akan melihat anak memainkan mainan yang sama tepat di samping anak lain.

Namun, bahasa bermain dan alur permainan mereka sama sekali tidak saling berhubungan.

Melalui fase ini, anak juga belajar menerima kehadiran orang lain di ruang bermain mereka.

Mereka dapat mengamati cara anak lain berbicara, berlatih berbagi, serta melihat bagaimana orang dewasa berinteraksi.

Menurut Felman, fase ini biasanya mulai muncul pada usia 18 hingga 24 bulan.

Tahap bermain paralel umumnya akan berakhir saat anak menginjak usia 3 hingga 4 tahun, ketika mereka mulai beralih ke cooperative play.