Budi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan diwarnai volatilitas pada semester II-2026. Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan berada di kisaran Rp17.200 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Menurutnya, arah pergerakan mata uang Garuda akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), kekuatan dolar AS di pasar global, serta arus modal asing yang masuk ke pasar domestik.

Strategi Diversifikasi Portofolio

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, Budi menyarankan investor untuk menerapkan strategi diversifikasi guna mengurangi risiko investasi.

>>> Harga Emas Perhiasan di Tiga Gerai Kompak Turun 6 Juni 2026

Menurutnya, emas dapat berfungsi sebagai aset safe haven, sementara dolar AS bisa dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan rupiah.

Di sisi lain, instrumen pasar uang dinilai mampu menjaga likuiditas sambil menunggu peluang investasi yang lebih menarik.

"Emas cocok sebagai safe haven, dolar AS sebagai lindung nilai terhadap pelemahan rupiah, dan pasar uang memberikan likuiditas sambil menunggu peluang investasi yang lebih menarik," kata Budi.

Ia juga memberikan rekomendasi alokasi portofolio berdasarkan profil risiko investor.

Untuk investor konservatif, komposisi yang disarankan adalah 60% di pasar uang atau deposito, 30% obligasi, dan 10% emas.

Sementara bagi investor dengan profil moderat, alokasi yang direkomendasikan meliputi 50% pada pasar uang, 30% obligasi, 10% saham, dan 10% emas.

Adapun investor agresif dapat mempertimbangkan komposisi portofolio sebesar 30% saham, 30% obligasi, 30% pasar uang, dan 10% emas.

Hindari Investasi Sekaligus

Meski melihat adanya peluang pada sejumlah aset yang mulai menarik secara valuasi, Budi mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menempatkan dana dalam jumlah besar sekaligus.