Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam 245,02 poin atau 4,2 persen ke level 5.594 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026).

Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan pasar saham domestik yang dipicu oleh meningkatnya sentimen negatif.

>>> Kasus Ebola di Kongo Melonjak Jadi 452, 82 Orang Meninggal

Dalam sepekan terakhir, akumulasi penurunan IHSG mencapai 8,73 persen. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi jual bersih investor asing yang menembus Rp 13,78 triliun.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyebutkan bahwa aliran dana keluar investor asing secara year to date telah mencapai Rp 57,63 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah sekitar 1,3 persen dalam sepekan.

"Pelemahan pasar diperkirakan dipicu oleh menurunnya kepercayaan investor global terhadap kebijakan yang terjadi di Indonesia," ujar Herditya.

Untuk perdagangan Senin (8/6/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi.

Support diproyeksikan di level 5.517 dan resistance di level 5.734, dengan rekomendasi saham ANTM, BRMS, dan MBMA.

Faktor Pemicu Pelemahan

Salah satu isu regulasi yang menjadi sorotan adalah rencana revisi Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

>>> 100 Nama Bayi Laki-Laki 3 Kata Islami dan Artinya

Pelaku pasar khawatir revisi ini dapat mengganggu independensi lembaga keuangan.

Dari sisi makroekonomi, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN 2026 hingga Mei mencapai Rp 180,4 triliun atau 0,7 persen dari PDB.

Angka ini melonjak dari defisit periode sama tahun lalu sebesar Rp 20,9 triliun, meski masih di bawah target total defisit APBN 2026 sebesar Rp 689,1 triliun.

Tekanan pasar semakin nyata setelah nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,46 persen ke posisi Rp 18.049 per dolar AS.

Pelemahan ini memicu spekulasi potensi Rapat Dewan Gubernur darurat Bank Indonesia sebelum jadwal reguler pada 17-18 Juni 2026.

Head of Research and Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menyatakan bahwa minimnya katalis positif membuat IHSG rentan mengalami koreksi lanjutan.

"Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan," jelas Valdy.

>>> Motor Listrik Yadea Tawarkan Efisiensi Biaya Operasional hingga 90 Persen

Pada pekan depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi penting, yaitu data cadangan devisa Mei 2026 pada Senin (8/6/2026), data keyakinan konsumen Mei 2026 pada Rabu (10/6/2026), serta data penjualan eceran April 2026 pada Kamis (11/6/2026).