Perajin Tahu Cibuntu Bandung Pertimbangkan Mogok Produksi Akibat Rupiah Melemah
Sebanyak 140 produsen di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, tengah mempertimbangkan untuk menghentikan produksi massal dalam beberapa hari ke depan.
Langkah ini dipicu oleh lonjakan harga bahan baku utama akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
>>> Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Sambut Baik Kenaikan Remunerasi Simpanan BI
Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M.
Zamaludin, mengungkapkan bahwa sebagian besar perajin tahu lokal bergantung pada pasokan kedelai impor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil.
Ketergantungan ini membuat usaha mereka rentan terhadap fluktuasi nilai tukar.
"Dulu sebelum puasa harga kedelai sekitar Rp8.000 sampai Rp9.000 per kilogram, sekarang sudah ada yang mencapai Rp11.000 per kilogram," ujar Zamaludin, Sabtu (6/6/2026).
Kekhawatiran kini meluas di kalangan perajin di Kota Bandung dan daerah lain di Jawa Barat.
Tren pelemahan rupiah berpotensi terus menaikkan biaya produksi, tidak hanya kedelai tetapi juga bahan baku lainnya.
"Kalau dolar naik tentu berpengaruh karena bahan baku yang kami gunakan sebagian besar impor, bukan lokal," kata Zamaludin.
Minimnya produksi kedelai dalam negeri membatasi alternatif bagi perajin selain impor. Kondisi ini dikhawatirkan memicu krisis operasional seperti yang terjadi pada tahun 2023.
>>> Jemaah Haji Mulai Pulang, Khutbah Jumat 12 Juni 2026 Bahas Tanda-Tanda Haji Mabrur
"Kalau harga kedelai naik terus, bukan tidak mungkin kejadian tahun 2023 terulang lagi.
Menaikkan harga tahu dan tempe juga tidak mudah, sehingga salah satu langkah yang bisa ditempuh adalah aksi mogok produksi," ujar Zamaludin.
Pada 2023, para produsen tahu dan tempe di berbagai wilayah pernah melakukan mogok massal untuk memprotes tingginya harga kedelai.
Aksi tersebut menyebabkan kelangkaan pasokan di pasar tradisional.
Saat ini, aktivitas produksi dan distribusi di sentra industri masih berjalan normal.
Belum ada kebijakan rasionalisasi ukuran produk atau kenaikan harga jual karena sebagian pelaku usaha masih menggunakan stok kedelai lama.
"Ukuran masih tetap dan harga juga belum berubah. Hanya saja keuntungan kami semakin berkurang, bahkan ada yang sudah merugi," kata Zamaludin.
Asosiasi berharap pemerintah segera melakukan intervensi strategis untuk menekan biaya impor kedelai. "Dulu ada kebijakan yang meringankan biaya impor untuk beberapa komoditas.
>>> Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 7 - 14 Juni 2026
Harapannya, kedelai juga bisa mendapat perhatian serupa agar harga lebih terkendali," pungkas Zamaludin.
Update Terbaru
Pemerintah AS Sita 21 Anak dari Pasangan di Arcadia
Sabtu / 06-06-2026, 14:02 WIB
Timnas U19 Indonesia Targetkan Kemenangan Lawan Vietnam demi Semifinal
Sabtu / 06-06-2026, 13:58 WIB
Nastasya Shine Luncurkan Tinted Sunscreen SPF 50 untuk Kulit Glowing
Sabtu / 06-06-2026, 13:57 WIB
Menkeu Purbaya Tanggapi Kenaikan Remunerasi Dana Pemerintah oleh BI
Sabtu / 06-06-2026, 13:48 WIB
Menkeu Purbaya Promosi Panda Bond ke China pada 16 Juni 2026
Sabtu / 06-06-2026, 13:48 WIB
Kemensos Salurkan Bansos PKH dan BPNT Tahap Akhir Triwulan II
Sabtu / 06-06-2026, 13:47 WIB
Momen Mesra Dua Lipa dan Callum Turner Berdansa di Pesta Pernikahan
Sabtu / 06-06-2026, 13:44 WIB
Dampak Buruk Sering Gunakan Fast Charging pada Mobil Listrik
Sabtu / 06-06-2026, 13:42 WIB
Bea Cukai Tagih Denda Rp97 Miliar ke Tiffany & Co
Sabtu / 06-06-2026, 13:42 WIB
Mathew Baker Catat Rekor Pemain Termuda Timnas Senior Indonesia
Sabtu / 06-06-2026, 13:40 WIB
Gamba Osaka vs Tokyo Verdy: Laga Penentu Juara J1 League 2026
Sabtu / 06-06-2026, 13:37 WIB
Gamba Osaka vs Tokyo Verdy: Leg Kedua Final J1 League 2026
Sabtu / 06-06-2026, 13:37 WIB
Pelatnas Renang Asian Games 2026 Mandek, Atlet Latihan Mandiri
Sabtu / 06-06-2026, 13:37 WIB
Sinarmas Sekuritas Ungkap Strategi Investasi Saat IHSG Tertekan
Sabtu / 06-06-2026, 13:36 WIB






