Tingkat keterisian penonton bahkan melampaui target penyelenggara, ditandai dengan angka penjualan tiket semifinal yang bergerak sangat positif.

“Untuk game pertama hari Jumat menurut saya sangat baik. Bahkan saya sempat mengecek ke tim Satria Muda, penjualan tiketnya sudah di atas 70 persen,” ujar Junas.

“Ini menunjukkan fans tidak lagi hanya menunggu pertandingan penentuan, tetapi sejak game pertama mereka sudah antusias,” imbuhnya.

Sistem best-of-five ini turut memberikan keuntungan kompetitif bagi tim yang menunjukkan konsistensi tinggi selama musim reguler berjalan.

Klub dengan peringkat lebih tinggi berhak menggelar laga kandang lebih awal dan mendapatkan kuantitas pertandingan home yang lebih banyak.

“Kehadiran penonton di setiap pertandingan menjadi semakin penting.

Jika tren ini bisa terus dipertahankan, dampaknya akan sangat baik untuk liga, tim, dan keseluruhan ekosistem basket Indonesia,” tutur Junas.

Kendati wacana memperpanjang rangkaian playoff hingga opsi best-of-seven sempat mencuat, pihak IBL memilih melakukan perubahan secara bertahap demi menjaga keseimbangan seluruh aspek.

“Secara regulator sebenarnya tidak sulit menambah jumlah pertandingan. Tinggal ditetapkan menjadi lima atau tujuh game.

>>> Bogor Hornbills Kalahkan Satria Muda 99-93 di Laga Pertama Semifinal IBL

Tetapi kami harus punya dasar pertimbangan yang kuat,” ucap Junas.

Aspek keberlanjutan bisnis klub menjadi konsiderasi utama. Lonjakan kuantitas laga wajib berbanding lurus dengan hasil penjualan tiket agar tidak membebani finansial tim.

“Kalau ticketing bagus, tentu akan semakin menguntungkan karena jumlah game bertambah.

Tetapi kalau belum siap, justru hanya akan menambah kerugian bagi tim, dan itu yang ingin kami hindari,” ungkap Junas.

Tingkat kompetitif antartim juga dipantau secara ketat untuk memastikan setiap laga tambahan menyajikan duel yang menarik dan sulit diprediksi.