Psikolog klinis dan keluarga, Pritta Tyas, M. Psi.

, Psikolog, menyarankan agar aktivitas bermain anak disesuaikan dengan tahap perkembangan usia. Hal ini penting untuk mengoptimalkan tumbuh kembang mereka.

>>> Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan Program MBG Tidak Bebani APBN

Menurut Pritta, anak-anak setidaknya perlu bergerak selama 180 menit setiap hari. Aktivitas fisik seperti berlari, melompat, dan bersepeda sangat dianjurkan untuk mengeksplorasi lingkungan.

Pendekatan ini sejalan dengan metode Maria Montessori yang menekankan permainan pendukung memori dan fisik.

"Dokter Maria Montessori bilang, sesuatu yang anak mainkan dengan tangan itu yang akan masuk dalam memori dan kognitifnya," ujar Pritta.

Permainan yang menggunakan tangan, seperti menyusun balok atau membuat kerajinan, memberikan stimulasi besar pada aspek kognitif. Koordinasi motorik dan kemampuan berpikir anak dapat dilatih melalui kegiatan konstruktif tersebut.

Kebutuhan Bermain Berdasarkan Usia

Pola bermain bergeser saat anak memasuki usia remaja 9 hingga 15 tahun. Pada tahap ini, mereka lebih membutuhkan interaksi kelompok dengan teman sebaya.

Aktivitas kolaboratif seperti olahraga bersama atau membuat proyek kreatif membantu anak belajar berkomunikasi dan bekerja sama.

Penggunaan teknologi digital oleh generasi Alfa tetap diperbolehkan dengan pengawasan ketat dari orang dewasa.

>>> That's No Moon Umumkan Game Debut Crossfire di Summer Game Fest 2026

"Pasti kita ingin generasi Alfa melek digital, jadi boleh, tapi dengan panduan," kata Pritta.

Orang tua perlu mengelola waktu secara konsisten agar permainan tidak mengganggu rutinitas penting seperti belajar, makan, dan istirahat.

Pritta mengingatkan agar anak tidak dibiasakan melakukan aktivitas lain secara bersamaan, misalnya makan sambil bermain gim.

Pendampingan aktif orang tua saat bermain juga berfungsi sebagai dukungan untuk memicu rasa ingin tahu serta kemandirian anak.

"Terkadang, anak hanya butuh semacam scaffolding atau dukungan yang tepat agar rasa ingin tahu mereka tetap menyala," ujarnya.

Sikap mendampingi tanpa menghakimi dipercaya dapat memperkuat hubungan emosional sekaligus membangun rasa percaya diri pada anak.

>>> Wamenhaj Minta Layanan Kesehatan Madinah Antisipasi Jemaah Gelombang Kedua

"Saat orangtua hadir mendampingi anak bermain tanpa menghakimi, kita sebenarnya sedang menanamkan modal paling berharga bagi mereka, yaitu kepercayaan diri bahwa mereka mampu belajar, mampu mencoba, dan mampu menjadi hebat dengan caranya," pungkas Pritta.