Reaktor fusi Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) milik China, yang dikenal sebagai matahari buatan, kembali mencatat pencapaian besar.

Dalam uji coba terbaru, reaktor ini berhasil melampaui batas Greenwald, standar internasional untuk kepadatan plasma aman pada reaktor tokamak.

>>> Anthony Head, Bintang Buffy the Vampire Slayer, Meninggal di Usia 72 Tahun

Keberhasilan ini membuka peluang untuk memproduksi energi listrik lebih melimpah tanpa memperbesar ukuran fisik reaktor atau menaikkan suhu operasional secara ekstrem.

Para ilmuwan menilai hasil ini sebagai batu loncatan menuju fusion ignition, saat reaksi fusi dapat mempertahankan energinya sendiri.

EAST adalah reaktor berbentuk cincin yang menggunakan medan magnet kuat untuk mengurung plasma bersuhu sangat tinggi.

Teknologi fusi nuklir dipandang sebagai solusi energi masa depan karena rendah emisi karbon, namun kendala utama adalah stabilitas plasma saat kepadatannya dinaikkan.

Inovasi Teknologi di Balik Kesuksesan EAST

Dalam pengujian terbaru, plasma EAST tetap stabil pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali lipat di atas batas Greenwald.

Keberhasilan ini dicapai melalui strategi khusus sejak fase awal pembentukan plasma.

Para ilmuwan menggunakan sistem pemanas tambahan seperti Electron Cyclotron Resonance Heating (ECRH) dan mengontrol volume gas awal dengan teknik pre-charged synergistic start-up.

Kestabilan juga didukung penggunaan material dinding logam penuh (all-metal wall) yang meminimalkan pelepasan partikel pengotor.

Tim dari Institute of Plasma Physics, Chinese Academy of Sciences (ASIPP) mengembangkan model teoritis Plasma-Wall Interaction Self-Organisation (PWSO).

>>> Huawei: Pembatasan AS Percepat Kemandirian Industri Chip China

Model ini mengungkap bahwa radiasi di area batas plasma memegang peran kunci dalam memicu limit Greenwald.

Dengan mengontrol radiasi tersebut, plasma EAST berhasil masuk ke kondisi operasi baru yang disebut density-free region.