Pasar keuangan domestik mengalami tekanan signifikan pada Jumat (5/6/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke bawah level 6.000, sementara rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS.

>>> BNI Sediakan Ekosistem Pembayaran Digital di Indonesia Open 2026

Kondisi ini memicu fenomena penarikan modal besar-besaran oleh investor asing. Mereka mengalihkan aset ke negara maju, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Saran untuk Investor Domestik

Pendiri Traderindo.

com, Wahyu Laksono, menilai situasi ini menjadi momentum bagi investor domestik untuk mengevaluasi dan menata ulang strategi investasi berdasarkan profil risiko.

"Ketika pasar saham terkoreksi dalam dan mata uang domestik terdepresiasi, investor disarankan tidak panik dan menghindari keputusan emosional," ujar Wahyu.

Wahyu menyarankan penataan ulang portofolio dengan memprioritaskan aset defensif. Contohnya saham komoditas atau ekspor yang meraup dolar AS, serta sektor konsumsi primer dan infrastruktur telekomunikasi.

Selain itu, investor dapat mencicil saham berkapitalisasi besar yang harganya murah akibat aksi jual massal.

Mereka juga disarankan memperkuat likuiditas lewat instrumen pasar uang atau Surat Berharga Negara (SBN) ritel.

"Dalam menyikapi kondisi pasar yang bergejolak tinggi ini, pembagian porsi aset harus disesuaikan dengan toleransi risiko investor agar modal tetap terlindungi sekaligus siap menangkap peluang rebound di masa depan," terang Wahyu.

Alokasi Aset Berdasarkan Profil Risiko

Bagi investor konservatif, Wahyu menyarankan alokasi dana 70 persen pada instrumen pasar uang, deposito, dan SBN jangka pendek.

Kemudian 20 persen pada reksa dana pendapatan tetap atau obligasi korporasi, serta 10 persen pada saham blue chip defensif.

Sementara investor moderat dapat membagi 40 persen dana pada pendapatan tetap dan SBN, 35 persen pada saham blue chip, dan 25 persen pada pasar uang sebagai kas cair.