Damian McCarthy kembali dengan film horor terbarunya berjudul Hokum. Film ini menjadi pintu gerbang menjanjikan bagi karier komersial sang sutradara yang sebelumnya berkutat di film independen.

Dalam durasi 1 jam 47 menit, McCarthy menyajikan teror yang menjadi alasan dasar mengapa penggemar horor kecanduan dengan kisah gangguan dedemit: jumpscare dan adrenalin.

>>> Telkomsel Integrasikan Ekspansi Konektivitas Digital dengan Kelestarian Lingkungan

Hokum sebenarnya memiliki komposisi cerita yang sederhana. Namun cara McCarthy mengolah naskah dan menyajikannya secara visual patut diacungi jempol.

Folklor Irlandia sebagai Bahan Cerita

McCarthy menggunakan folklor dari negara asalnya, Irlandia, sebagai bahan cerita. Keputusan ini cerdas karena menghadirkan latar budaya yang mungkin belum banyak diketahui penonton global.

Dari kisah omongan orang tua yang diwariskan sebagai pemali, McCarthy mengembangkannya dengan drama yang logis tanpa kehilangan aspek humanis.

Jumpscare yang disajikan memang terbilang standar dan tidak mindblowing, namun sensasinya tetap terasa. McCarthy seolah mengingatkan penggemar horor akan alasan mereka menyukai teror supranatural di layar lebar.

Horor Tanpa Sadis Berlebihan

Satu hal yang patut diapresiasi adalah Hokum tidak menampilkan teror keji di luar nalar demi sensasi thrilling.

Aksi kriminal yang dibawa McCarthy terbilang biasa untuk film horor bertema pembunuhan.

Cerita ini terasa seperti kisah misteri pembunuhan dalam berita kriminal sehari-hari.

Namun pengantar folklor Irlandia dan kerja apik tim desain produksi serta sinematografi Colm Hogan membuatnya berbalut horor yang menggelisahkan.

>>> Musisi dan Festival Musik Mulai Terapkan Konsep Ramah Lingkungan

McCarthy tidak menampilkan aksi kesurupan heboh atau penampakan dengan scoring berlebihan seperti banyak film horor lainnya. Ia lebih mengandalkan atmosfer dan timing yang tepat.