"Kedua instrumen ini menawarkan peluang imbal hasil yang realistis dan terukur dengan risiko fluktuasi minim," kata Barkah.

Sentimen Global dan Dampak Aliran Modal

Investor juga diminta waspada terhadap sentimen global. Ketegangan geopolitik internasional yang belum mereda diikuti lonjakan inflasi, terutama dari data terbaru Amerika Serikat (AS).

Kenaikan inflasi AS memperbesar peluang Bank Sentral AS mempertahankan suku bunga acuan tinggi lebih lama.

Imbasnya, yield obligasi dan penguatan dolar AS memicu capital flight dari negara berkembang, termasuk Indonesia, yang menambah beban rupiah.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto merekomendasikan diversifikasi ke aset berdenominasi dolar AS.

Pilihan instrumen meliputi mata uang tunai (bank notes), reksa dana berbasis dolar AS, atau obligasi valuta asing.

"Semua instrumen bisa menjadi pilihan, tergantung risk profile masing-masing. Saat ini tidak ada proyeksi return," ujar Rudiyanto.

Langkah penting lainnya adalah memantau kebijakan dan komunikasi pemerintah. Respons otoritas dalam mengelola situasi ekonomi diyakini akan menjadi motor penggerak sentimen pasar ke depan.

"Apakah pemerintah bisa sadar dan berubah atau tetap seperti ini saja.

>>> Iran Desak Israel Mundur dari Lebanon Selatan demi Gencatan Senjata

Pemerintah perlu kelola fiskal dengan baik, jaga komunikasi publik bila perlu dan jangan pidato dulu untuk beberapa waktu," tambahnya.