Pasar keuangan domestik saat ini mengalami tekanan signifikan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76.

>>> Peneliti Italia Berhasil Buat Sourdough Pakai Ragi Mumi Berusia 5.300 Tahun

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turut memperparah kondisi. Mata uang garuda kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS.

Chief Investment Officer KIM Indonesia, Barkah Supriadi, menekankan pentingnya penataan ulang portofolio.

Langkah ini krusial untuk mengendalikan risiko dan menangkap peluang dari aset fundamental kuat yang valuasinya sudah di bawah harga pasar.

Pendekatan taktis dinilai sebagai opsi terbaik dalam menghadapi volatilitas tinggi. Melalui strategi ini, investor dapat menggeser porsi investasi secara fleksibel untuk mengamankan nilai modal.

"Strategi alokasi aset taktis, atau Tactical Asset Allocation (TAA), sangat ideal untuk kondisi pasar yang fluktuatif seperti saat ini," ujar Barkah.

Sebagai gambaran, investor agresif dengan alokasi 60% saham, 20% reksadana pendapatan tetap (RDPT), dan 20% reksadana pasar uang (RDPU) atau kas dapat mengurangi porsi saham.

Dana tersebut bisa dipindahkan ke instrumen defensif saat pasar berpotensi terkoreksi lebih dalam.

Pendekatan adaptif ini berguna menekan penurunan kinerja portofolio.

Selain itu, investor tetap memegang aset likuid di RDPU yang bisa digunakan untuk average down ketika tren pasar berbalik arah.

Pilihan Instrumen Risiko Rendah hingga Moderat

Beralih ke instrumen risiko rendah hingga menengah menjadi pilihan rasional saat pasar cenderung menghindari risiko. Instrumen seperti RDPU dan RDPT masih menawarkan target imbal hasil menarik.

>>> Timnas Indonesia Matangkan Persiapan Hadapi Oman dan Mozambik

Saat ini, target imbal hasil RDPU berada di angka 4,5%-5% per tahun. Sementara itu, RDPT menawarkan target imbal hasil sekitar 6-7% per tahun.