Kolom komentar di akun pribadi maupun akun usaha miliknya dipenuhi kritik. Sebagian warganet menganggap sikap yang ditunjukkan dalam siaran langsung itu tidak mencerminkan figur publik yang seharusnya memberikan contoh baik kepada pengikutnya.

Sejumlah komentar bernada protes pun bermunculan. Ada yang mengaku kecewa dengan pernyataan tersebut, sementara lainnya menilai kontroversi itu memperlihatkan sisi berbeda dari sosok yang selama ini dikenal publik.

Perbedaan Sikap dari Kedua Kubu

Ramainya perbincangan di dunia maya membuat perwakilan hukum dari kedua pihak ikut memberikan penjelasan.

Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, menilai pernyataan yang mengecilkan nilai Rp200 juta menunjukkan sikap yang kurang tepat. Ia menegaskan dana tersebut diberikan untuk kebutuhan pemeliharaan dan pendidikan anak-anak.

Menurutnya, penyampaian informasi mengenai nominal nafkah dilakukan sebagai tanggapan atas pernyataan yang telah lebih dulu beredar di ruang publik.

Di sisi lain, kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, meminta polemik tersebut tidak terus diperpanjang. Ia menekankan bahwa besaran nafkah yang diberikan merupakan hasil kesepakatan tertulis yang telah disetujui kedua belah pihak.

Pihak Sarwendah juga berharap masing-masing pihak menjalankan kewajibannya sesuai perjanjian yang ada tanpa memperuncing perdebatan di ruang publik.

Publik Menunggu Penyelesaian

Hingga kini, perdebatan mengenai pernyataan tersebut masih berlangsung di media sosial. Seruan boikot terhadap produk-produk Sarwendah juga masih terus bermunculan di berbagai unggahan yang membahas polemik itu.

Sementara itu, perhatian publik kini tertuju pada kemungkinan adanya penyelesaian yang lebih damai antara kedua belah pihak, terutama karena persoalan tersebut berkaitan dengan kepentingan anak-anak mereka.