Asisten Direktur Kelompok Respons Insiden Kritis FBI, Devin Kowalski, mengaku ancaman ini menjadi salah satu perhatian terbesar.

"Hal yang membuat kami sulit tidur adalah drone ilegal yang membawa muatan berbahaya yang dapat mencederai orang-orang," ujarnya.

November tahun lalu, seorang tersangka penganut supremasi kulit putih di Nashville diduga merencanakan serangan terhadap jaringan listrik menggunakan drone yang dipasangi bahan peledak C-4.

Pada Maret lalu, FBI juga mengeluarkan peringatan terkait potensi serangan balasan Iran menggunakan drone.

Antisipasi Serangan Siber dan Keterbatasan Personel

Selain ancaman fisik, pemerintah AS bersiap menghadapi serangan siber yang diperkirakan meningkat selama turnamen.

Giuliani mengungkapkan berbagai skenario yang diantisipasi, mulai dari pembobolan sistem tiket hingga upaya mengganggu layar raksasa stadion dan jaringan transportasi.

Pada 7 April lalu, sejumlah lembaga federal mengeluarkan peringatan bersama mengenai ancaman keamanan siber yang berafiliasi dengan Iran terhadap infrastruktur penting AS.

Pakar keamanan siber dari Center for Strategic and International Studies, Nikita Shah, menilai kemampuan pemerintah menghadapi ancaman tersebut sedang mendapat tekanan akibat pemangkasan beberapa lembaga federal.

Namun, Giuliani membantah kekhawatiran tersebut dan mengatakan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) tetap siap.

Beban pengamanan terbesar akan berada di tangan kepolisian lokal yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami gelombang pensiun dan pengunduran diri personel.

Direktur Eksekutif Police Executive Research Forum, Chuck Wexler, mengatakan banyak departemen kepolisian kini menghadapi keterbatasan sumber daya manusia.

Presiden Fraternal Order of Police Lodge 5 Philadelphia, Roosevelt Poplar, mengungkapkan departemennya masih memiliki lebih dari 1.000 posisi kosong.

Petugas diperkirakan akan bekerja dengan sistem lembur sukarela maupun wajib selama turnamen.