Menurut Giuliani, perilaku yang bagi polisi lokal terlihat seperti kerusuhan bisa jadi merupakan tradisi umum suporter dari negara tertentu.

FIFA membantu dengan memberikan analisis ancaman dan informasi intelijen mengenai setiap negara peserta.

Kepolisian Philadelphia akan menempatkan personel yang menguasai bahasa negara-negara peserta di jalur pawai suporter dan titik keramaian utama.

Kamera tubuh petugas juga dilengkapi teknologi penerjemah yang mampu mendukung lebih dari 50 bahasa.

Antisipasi Ancaman Terbuka

Penyelenggara berusaha menghindari terulangnya insiden final Copa America 2024 di Miami ketika ribuan orang tanpa tiket menerobos gerbang stadion.

FIFA membentuk perimeter keamanan tambahan di area luar stadion.

Banyak area parkir akan dipagari dan setiap suporter wajib menunjukkan tiket sebelum memasuki kawasan stadion.

Aparat juga harus melindungi sasaran terbuka seperti hotel, pusat latihan tim, restoran, festival suporter, hingga pesta jalanan.

Wakil Direktur FBI, Christopher Raia, mengatakan ancaman yang paling dikhawatirkan berasal dari pelaku ekstremis domestik yang bergerak sendiri.

Ia mencontohkan serangan di New Orleans tahun lalu ketika seorang pria menabrakkan truk ke kawasan Bourbon Street.

"Serangan seperti ini sangat sulit dideteksi dan dicegah," kata Raia.

>>> Tiga Negara Siapkan Seremoni Pembukaan Berbeda di Piala Dunia 2026

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, Philadelphia berencana menempatkan kendaraan dinas kebersihan kota di sejumlah persimpangan sebagai penghalang fisik.

Teknologi Anti-Drone Diperkuat

Salah satu fokus utama pemerintah AS adalah ancaman drone ilegal.

DHS mengalokasikan lebih dari 250 juta dolar AS kepada kota-kota tuan rumah untuk pengadaan teknologi anti-drone.

Sebanyak 60 petugas dari 30 yurisdiksi negara bagian dan lokal telah mengikuti pelatihan penanganan drone di fasilitas FBI di Huntsville, Alabama.