Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan belum akan merevisi asumsi makro nilai tukar rupiah dalam APBN.

Keputusan ini diambil meskipun rupiah sempat melemah hingga level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

>>> Panduan Pemulasaraan Jenazah Sesuai Syariat dan Kendala di Masyarakat

Pada Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,23 persen ke level Rp18.074 per dolar AS.

Namun, rata-rata nilai tukar year to date masih berada di Rp17.057, lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar Rp16.500.

Purbaya menyatakan bahwa saat exercise harga BBM sebelumnya, rupiah sudah berada di level yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, ia belum merasa perlu melakukan penyesuaian terhadap asumsi saat ini.

Target Ekonomi dan Inflasi

Pemerintah tetap mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen. Realisasi kuartal I-2026 bahkan sudah melampaui target dengan angka 5,6 persen.

>>> Kementerian Keuangan Bedah Perkembangan APBN Lewat Live TikTok

Sementara itu, inflasi tercatat di level 3,08 persen, lebih tinggi dari asumsi makro.

Yield SBN 10 tahun secara year to date berada di angka 6,48 persen dan ditutup pada level 6,67 persen.

Harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini rata-rata US$91,9 per barel, melonjak jauh dari asumsi awal US$70 per barel.

Untuk menjaga stabilitas, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat. Pertumbuhan jumlah uang beredar pada Mei 2026 meningkat 18 persen secara year-on-year.

>>> Khaldoon Al Mubarak: Pep Guardiola Sering Ingin Tinggalkan Man City

Menkeu menilai tren peningkatan likuiditas ini positif untuk mendorong ekspansi ekonomi. "Ada cukup uang di perekonomian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang tinggi," ujarnya.