Pep Guardiola resmi meninggalkan Manchester City pada akhir kompetisi Premier League 2025/2026. Kepergiannya menandai berakhirnya salah satu era paling gemilang dalam sejarah klub.

Di balik kesuksesan Guardiola meraih berbagai trofi, ternyata ia berulang kali mengutarakan niat untuk mundur.

>>> Harga Emas Berjangka AS Merosot Imbas Ketegangan Timur Tengah

Fakta ini dibeberkan oleh Pimpinan Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, dalam wawancara akhir musim.

Guardiola mengomandoi City selama satu dekade.

Ia menyumbang enam gelar Premier League, termasuk empat trofi beruntun pada 2020–2024, serta Liga Champions, tiga Piala FA, lima Piala Liga, Piala Dunia Antarklub, Piala Super UEFA, dan tiga Community Shield.

Guardiola 100 Kali Ingin Mundur

Al Mubarak memaparkan bahwa Guardiola sudah berkali-kali menyampaikan keinginan menyudahi kontrak lebih cepat.

"Saya akan mengatakan ini, dan saya tidak tahu apakah dia akan mengakuinya atau tidak, tetapi saya menganggap diri saya sebagai psikiaternya," kata Al Mubarak.

"Saya harus membantunya selama bertahun-tahun. Bukan pada saat-saat baik karena itu mudah.

Yang sulit adalah ketika menghadapi masa-masa penuh tantangan," ujarnya.

"Selama 10 tahun terakhir ini kami mengalami banyak momen naik dan juga beberapa masa sulit.

Pada masa-masa sulit itu, dia mungkin sudah 100 kali mengatakan ingin mundur," ungkap Al Mubarak.

Al Mubarak menilai situasi emosional Guardiola mirip dengan fabel "Anak Gembala yang Berbohong". "Ketika dia mengatakan ingin berhenti, itu tidak berarti dia benar-benar akan berhenti.

Jadi, Anda tidak bisa menanggapinya terlalu serius. Anda harus tahu cara mengelolanya," tuturnya.

Alasan Kelelahan Fisik dan Mental

Saat pengumuman perpisahan dirilis, Guardiola masih terikat kontrak satu musim ke depan.